Kamis, 11 Juli 2013

Api Keberanian



Matahari sangat bersinar terik siang itu, tepat berada diatas ubun-ubun dan menyengat masuk langsung ke kepala. Ya, siang itu adalah kali pertamannya aku menekan keras tubuhku keatas demi terpecahnya lapisan cangkang yang selama ini membatasi ruang gerak ku. Aku sudah merasa harus keluar siang itu, tak betah ku harus berlama-lama membenamkan kepalaku dalam ruang sesak bernama membran. Kurasakan getaran hebat tepat disebelahku, oh mungkin dia saudaraku. Sial kecurian start dengannya!

“KREEKz”

Huuuh lega rasanya menghirup udara bebas seperti ini, ketika ku mulai menghancurkan satu bagian dari cangkangku terlihat jelas sosok besar dan gagah di depan. Dia mengepakkan kedua sayapnya yang lebar demi menghalau teriknya sinar. Ku lihat dia tersenyum, bahkan dapat terlihat jelas dia menangis terharu ketika melihatku dan saudaraku keluar satu per satu. Hey! Aku tahu kalian manusia, percayalah kami juga dapat tertawa, tersenyum, menangis bahkan berdo’a seperti kalian. Kalian kira hanya kalian saja yang dapat melakukan semua itu? Kami pun juga. Oke ku lanjutkan, setelah aku dan kedua saudaraku terlepas dari cangkang menyulitkan itu, sosok besar dan gagah itu mendekap hangat. Bulu-bulunya terlihat kasar di luar tapi ternyata sangat halus di bagian dalam, dia membisikkan pada kita satu kalimat pertama yang sangat menggetarkan telinga.

“selamat datang di dunia yang sangat indah ini anakku, sungguh seluruh dunia sangat menanti kehadiran kalian sejak lama” – ibu, ternyata sosok yang ada di depan kami adalah ibu. Dia bisikkan lirih kalimat itu seraya memeluk erat kami.
***
 
Hari berganti hari, malam berganti malam, tubuh ku dan kedua saudaraku semakin tumbuh besar. Sesekali ibu berpamitan pergi untuk mencarikan kami makanan, sesekali ibu memercikkan air untuk memandikan kami. Aku adalah anak yang paling terakhir keluar dari cangkang, jadi aku dalah anak mmh kalian menyebutnya apa? Anak bungsu? Atau anak bontot? Ya, apapun kalian menyebutnya yang jelas aku adalah anak terakhir di keluarga.

“ibu kemana?” – kalimat pertamaku ketika membuka mata pagi itu.
“cari makan buat kita laah. Hey lihat kita sudah dapat berdiri dan mengepakkan sayap. Kau bisa juga tidak?” 

Cih ternyata kedua saudara ku itu sedang memamerkan diri, “ini kan masih pagi” gumamku dalam hati.

“aku bisa, tapi kalau sekarang aku tak mau. Lebih baik berkemul dibalik selimutku dibanding memamerkan hal sepele itu. Setiap kita kan pasti bisa berdiri dan mengepakkan sayap.” – jawabku sekenanya.

Pffft kenapa meraka selalu seperti itu terhadapku? Apa karna aku anak bungsu? Hey ini untuk kalian juga yang membaca, camkan kata-kataku yang satu ini. Tidak selamanya anak bungsu itu manja, bahkan boleh jadi kelak dia akan tumbuh lebih dewasa dari yang kalian kira. 

Sempat aku berfikir apa hebatnya menjadi aku? Menjadi burung biasa yang masih belum punya keinginan untuk terbang. Burung memang seharusnya terbang, tapi kalau aku juga terbang apa bedanya dangan burung-burung yang lain? Sama saja. Biasa saja. Ingin menjadi yang diluar dari kebiasaan? Ya berkeputusan untuk tidak terbang mungkin bisa menjadi salah satu pilihan.

Kedua saudaraku sudah melalang buana di sekitaran rumah, aku? Masih disini saja ha ha. 

“kemarin aku hinggap di salah satu jendela rumah di seberang hutan sana, dan kulihat pemiliknya sedang menonton sebuah tanyangan. Aku melihat seseorang yang mirip dengan kita. Tapi dia sedang mencabik-cabik bangkai yang tergeletak. Terdengar juga bahwa ternyata kita adalah salah satu species raptor (burung pemangsa) dan eerghh memang terlihat jelas di tanyangan itu. Ah andai kalian juga melihat, mungkin akan mengutuk diri kalian sendiri.” – ulasan cerita salah satu saudaraku setelah dia berkeliling memutar. 
 ***

Cerita salah satu sadaraku sangat terngiang sampai malam. Aku gelisah. Tidur pun menjadi resah. Tetap tidak terima jika ternyata aku adalah salah satu makhluk yang boleh jadi sangat dimusuhi karna cap keganasan yang terlanjur disematkan.

“nak, sudah tidurkah kamu? Apakah udara mala mini terlalu panas sampai membuatmu tak nyaman seperti itu?” – teguran ibu membuyarkan lamunanku.

Aku berbalik dan kulihat wajah ibu, iya dari garis mukanya dia sangat kuat tapi andai saja kalian bisa melihat lebih jelas pada matanya, ah bahkan kelembutan tatapan mata ibu melebihi lembut bulu-bulunya.

“ibu, buat apa kita hidup jika untuk mengakhiri hidup orang lain? Buat apa kita diciptakan jika hanya untuk menghilangkan ciptaan yang lain? Buat apa kita memiliki kekuatan jika hanya untuk meremukkan kekuatan yang lain?” – kalian tahu? Aku sudah tidak tahan menahan tanda Tanya besar dalam pikiran ku sendirian. Setidaknya jika kutanyakan pada ibu, aku bisa berbagi tanda Tanya dengannya.

Ibu tersenyum. Menggeserkan tubuhku untuk mendekat padanya. 

“pertanyaan yang sangat bagus dan indah anakku. Ibu saja tidak pernah membayangkan kau akan melontarkan pertanyaan itu pada ibu. Tapi baiklah akan ibu jawab pertanyaanmu sebisaku. Anakku, di dalam kehidupan ini akan selalu ada pertanyaan yang perlu dijawab secara gamblang. Didalam kehidupan ini terdapat roda besar ekosistem yang tidak dapat dihentikan. Kita hidup bukan untuk mengakhiri hidup orang lain, tapi akan terdapat titah Tuhan yang telah Dia sematkan pada diri kita masing-masing. Kalaulah jiwa-jiwa lama harus pergi, maka akan selalu ada jiwa-jiwa baru yang mengganti. Itu janji Tuhan nak dan Tuhan tidak akan mengingkari setiap janji yang Dia lontarkan.

Anakku, dalam titah yang telah Tuhan sematkan selalu terkandung kekuatan didalamnya. Setiap kita telah disisipkan modal keberanian olehNya, dan sekarang tugas kita adalah terus meningkatkan keberanian agar terkikisnya kegelisahan dan ketakutan pada sesuatu hal yang tidak perlu. 

Sekarang ibu ingin meminta pertolongan darimu, maukah kau membantu ibu?”

Aku meng-iya-kan dengan sangat yakin. Bagaimana mungkin aku menolak menolong ibu yang telah berkorban banyak untukku?

“nak, sekarang ibu titipkan lentera kecil yang didalamnya terdapat api. Ibu minta kau untuk menjaga agar apinya terus menyala, karna jika api itu mati maka seluruh dunia menjadi gelap gulita. Gelap dan terangnya dunia ini tergantung oleh api yang ada didalam lentara milikmu. Lalu, apa yang dapat kamu lakukan untuk mempertahankan api itu?”

Aku diam sejenak, memikirkan dalam tentang hal yang akan aku lakukan. Hey, sekarang bagaimana dunia tergantung oleh keputusanku. Bagaimana mungkin aku tidak berfikir keras untuk itu?

“aku akan menjaga api dalam lentera itu bu, dengan cara aku akan senantiasa memberikan bahan bakar agar tak kering dan mati apinya. Atau kalau perlu sesekali akan aku teteskan beberapa minyak di sumbunya. Ya, aku rasa itu akan menjaga agar apinya tetap menyala” – jawabku yakin.

Ibu membelai halus kepalaku.

“ada yang perlu kau ketahui nak, jika kau melakukan itu setiap menit yang ada api itu tidak akan ragu untuk membakarmu hidup-hidup. Berlakulah sewajarnya, jangan berlebihan menjaga tapi jangan terlalu cuek juga terhadapnya.

Api itu seperti keberanian nak, keberanian itu sangat perlu dipupuk namun jangan berlebihan dari batas yang telah ditentukan. Karna jika keberanian berkembang pesat tak tertahankan, mungkin bisa saja kau jadi berani melawan titah yang telah Tuhan sematkan padamu. Seperti halnya api yang di teteskan minyak secara berlebihan, keberanian yang terlalu berlebihan kelak juga dapat menghancurkan dirimu sendiri.

Mulai sekarang, cobalah lawan ketakutan terbesarmu untuk terbang dengan keberanian yang berapi-api. Karna sungguh nak, kepakkan sayapmu sangat diharapkan seluruh penjuru dunia. Terbanglah, nikmati dunia yang telah Tuhan siapkan dan temukanlah pasangan. Kelak jika kau mempunyai anak maka tanamkanlah nilai yang sama seperti milikmu. Dengan kamu terbang, maka memperkecil kemungkinan kita dalam kepunahan, dan sebarkanlah pada dunia bahwa kita belum punah seperti yang diberitakan. Perkenalkanlah pada dunia bahwa kita adalah Elang flores (spizaetus floris) dan kita belum punah.” 

Malam itu, detik dimana untuk pertama kali aku mengetahui identitasku, aku memutuskan untuk melawan ketakutan terbesarku. Ya, ibu benar, aku tidak terbang bukan semata-mata karna ingin menjadi yang diluar kebiasaan, namun dipundakku tersematkan pesan yang sangat besar. Pesan kepada penjuru dunia bahwa diriku masih memiliki kesempatan untuk diperkenalkan oleh anak cucu bahkan cicit kalian. Pun aku tidak dapat menjaga diriku sendiri, aku harap kalian yang naytanya memiliki kemampuan untuk berfikir banyak dapat membantu langkahku. Bantulah aku dalam menjaga lingkungan ini. Dengan begitu, kau dan juga aku dapat sama-sama menjalankan titah yang telah Tuhan sematkan. Jika suatu hari kalian melihatku terbang diatas atau kalian melihatku bertengger disalah satu ranting taman dekat rumah kalian, Selamat! setidaknya kalianlah penerima pesan yang ibuku titipkan. 
(Spizaetus floris) sumber : google
 Posted for project writing #IWritetoInspire #14daysofnspiration #2ndday:Courage(keberanian)

Read more...
separador

Rabu, 10 Juli 2013

Bangunan Kepercayaan



“aku tetap ke kampus besok yah. Ada yang harus aku ambil untuk ujian tengah semester ku. Iya besok memang tanggal 25 Desember, tapi di kampus ku tidak cuti bersama” ujar aku mencoba menjelaskan dengan nafas yang (semoga terdengar) tenang.
Tak lama selesai aku menjelaskan apa yang akan kulakukan besok dan alasana apa yang mengharuskan aku pergi besok, ayah memberikanku uang saku. Malamnya ah bahkan aku tidak dapat tidur setenang biasanya, diotakku terisi penuh rencana indah yang akan aku lakukan besok dengan orang yang telah kutambatkan janji dari jauh-jauh hari. Ya, mungkin kalian bisa menebak bahwa alasan mau kekampus untuk mengambil sesuatu hanyalah alasan mengada-ngada yang aku ciptakan agar lencar perizinan keluar dari mulut ayah. 
“Ah apa salahnya berbohong sedikit? Toh kalau tidak begini aku tidak akan menepati janjiku. Nng, tak apalah. Tak akan tercipta juga kebohongan baru setelahnya. Ayah pasti percaya dengan kata-kataku tadi.” Kata ku dalam hati, mencoba untuk menenangkan.
***
“haaai! Akhirnya sampai juga, ish tadi hampir aja aku salah turun bis. Untung kau kasih kabar secepat tadi, kalau tidak? Wuuf bisa kelewat jauh tuh. Oke, kita mau kemana hari ini?” itulah kata-kata pertama yang meluncur ketika ku lihat temanku disana.
“mmm, kita jelajah sejarah yuk hari ini. Jangan cuma jalan-jalan biasa aja, tapi harus yang berbobot! Museum atau tempat bersejarah didekat sini Cuma ada kota tua. Kau mau kesana?”
Setelah perbincangan awal yang aku dan temanku lakukan akhirnya kita mengambil keputusan untuk pergi ke kota tua, terdengar biasa sih tapi ya Cuma tempat itu yang paling mungkin dijangkau. Aku dan temanku menghabiskan waktu berdua, mengukur jelas panjang jalanan ibu kota, berperang singit dengan debu jalan yang beterbangan, mengutuk habis teriknya matahari silau, dan tanpa terasa jam berganti jam sorepun menghampiri.
“kamu izinnya gimana sama orang tua? Langsung dibolehin untuk jalan bareng aku hari ini?” akhirnya pertanyaan yang dari awal tidak aku harapkan sempurna keluar tanpa ragu. “Sial! Kau bilang apa tadi malam? Tidak akan tercipta lagi kebohongan baru setelahnya? Si bodoh! Kata siapa? Buktinya 2 detik setelah ini kau akan menciptakan kebohongan kedua. Ah!” bentak ku dalam hati untuk diri sendiri.

“ohh izin ya tinggal izin ajah. He he, tinggal bilang mau pergi sama temen.” Hhh kebohongan kedua terutai dengan gagapnya.

Aku dan dia memutuskan untuk pulang, karna langit sore sudah mulai menggantung penuh keyakinan. Selama perjalanan pulang kita berdua sama-sama menceritakan tentang peluh yang menetes hari ini, air mata yang menetes di hari lalu, dan darah yang akan menetes di hari esok. Perjalanan sangat berbobot. Tak lama kedamaian itu menyelimuti bis yang kita tumpangi, akhirnya datang sesuatu yang sangat amat paling tidak aku harapkan. Handphone berdering dengan lincahnya. Kupejamkan mataku sejenak sambil berbisik “Semoga bukan ayah”. Tapi bisikanku terlalu pelan, keluar lalu ditabrak bis yang berbeda haluan. Ternyata nama ayah yang tertera saat handphone ku bordering. Aku gentar, tanganku gemetar.

“ngg, halo yah? Ada apa?”
“kamu dimana?”
“ohh aku udah di bis yah.. udah perjalanan pulang” – hei aku tak berbohong di kalimat ini kan?
“sudah di daerah mana?”
“mmm, ini diiii slipi yah. Iya udah di slipi. Sebentar lagi juga aku sampai rumah” – hhh, kebohongan ketiga.
“slipi? Oh ayah juga lagi di jalan pulang dari kantor. Dan ayah juga di daerah slipi. Kamu turun aja dari bis”
“hah? Ayah di slipi? Nngg… mm yah ayah duluan aja, aku udah bayar ongkos. Sayang kalo turun disini” – si bodoh yang satu ini memang amatiran dalam berbohong! Bagaimana bisa dia menjawab dengan sangat gagap dan kaku seperti itu? Orang tunanetra pun tahu kalau nada bicara seperti itu adalah nada bicara orang yang sedang ketakutan dan menyimpan kebohongan. Ah bodoh!
“oh yaudah” 

Ayah hanya berucap dua kata sebagai penutup dan aku sangat yakin kalau ayah mengetahui kalau anaknya yang satu ini sedang tidak jujur dengan perkataannya. Seketika aku ketakutan, duduk menjadi gelisah dan pikiran mulai meliar nelangsa.

“tadi ayah?”
Pertanyaan itu mebuyarkan lamunan dalam pikiranku.
“iya” – aku jawab seadanya.
“kenapa kamu bilang kalau bis kita di slipi? Kan bis kita lagi di daerah grogol. Kamu, berbohong sama ayah mu?” 

Aku tak menjawab. Aku masih sibuk menenangkan hati dan pikiranku. Ah bagaimana pula temanku ini? Masih saja menanyakan pertanyaan yang sudah jelas jawabannya? Sudah sudah aku benar-benar yakin bahwa ayah pasti tahu kalau tadi aku berbohong. Dan ah apa yang harus aku katakan setibanya dirumah nanti? Dan apa yang akan ayah lakukan? Sudah pasti aku akan mengakui kesalahan ku dan meminta maaf atas kebodohan yang telah aku perbuat. 
Diperjalanan yang awalnya penuh dengan percakapan, sekarang penuh dengan keheningan. Aku memilih untuk menyandarkan kepalaku pada kursi penumpang yang tepat ada di depan. Turun bis, lanjut naik angkot sampai perjalanan kaki ku sampai rumah masih sibuk otak ku menerka-nerka apa yang akan terjadi selanjutnya dan otak ku sibuh menyusun kata apa yang harus aku ucapkan pada ayah?
Setibanya dirumah, kuliah ayah sedang berada di teras belakang. Seperti biasa dia sedang melihat barang kesayangan miliknya. Aku tak kuat ingin mengucapkan permohonan maaf ini, tapi seolah kakiku berat dalam melangkah.

“ayah, maafin aku. Maaf karna udah ngebohongin ayah tadi. Aku gak tau lagi harus bilang apa sekarng yah, mohon maafkan kesalahan terbesarku.” Aku tak kuasa menahan tangis. Seketika air mataku berurai tanpa dapat di halau. Aku menciumi tangan ayah dan ayah hanya diam. Kediaman sungguh sangat membunuhku, sangat.

Lama aku terisak di pangkuannya, lalu kurasakan tangan ayah mulai membelai lembut rambutku. 

“nak bangunlah, duduk disampingku. Kau lihat rumah tetangga kita yang sedang dibangun itu? Sudah sejak 2 bulan lalu di bangun namun belum juga selesai sampai sekarang. Kepercayaan itu ibarat sebuah bangunan. Setiap hari bertambah satu per satu batu batanya, direkatkan dengan semen agar dapat berdiri tegak nantinya. Sang pemilik bangunan itu mengerahkan segala yang dia punya dengan susah payah. Di bangunan itu tidak hanya terkandung batu dan semen namun juga terkandung air mata, keringat bahkan darah di dalamnya. Ada hal yang dapat menghancurkan bangunan itu secara seketika, iya hal itu adalah gempa. Kalau kepercayaan itu ibarat bangunan, maka kebohongan itu ibarat gempa yang dengan seketika dapat menghancurkan bangunan yang dibangun dengan susah payah. 

Ayah selalu alergi dengan kebohongan, dan selalu berusaha untuk berteman baik dengan kejujuran. Ketahuilah nak, ayah sudah sangat hafal bau kebohongan, sudah kenal bentul rasa kekecewaan karna hancurnya kepercayaan dan sudah sangat terbiasa dengan penghianatan. Ayah sudah sangat familiar dengan rasa sakit itu. Prinsip yang ayah miliki dari dulu hingga sekarang adalah tidak akan melakukan hal yang tidak ayah sukai kepada orang lain, karna boleh jadi mereka pun tak suka diperlakukan seperti itu. Tidak ada manusia yang suka dibohongi, karna nyatanya mereka sangat tahu seberapa lelah dan susahnya membangun bangunan kepercayaan.

Jangan biasakan berbohong, karna dengan berbohong kamu sama saja seperti gempa yang tidak diinginkan atau bahkan diharapkan. Ambilah pelajaran dari pengalaman yang kamu dapatkan sekarang. Ayah tidak marah padamu sayang, karna ayah rasa kau butuh merasakan sendiri bagaimana risihnya berbohong dan bagaimana rindunya untuk berkata jujur. Sudah terlalu banyak manusia yang memupuk kebohongan di jaman sekarang nak, karna kebanyakan mereka tidak mengetahui bagaimana susahnya membangun kepercayaan. Ah bagaimana mereka mau membangun keparcayaan? Mungkin malah mereka sudah menganggap bahwa semua manusia pasti berbohong dalam setiap tingkah lakunya. Bumi ini sudah teramat gersang nak, dan ayah harap kau dapat menjadi setitik air yang menyejukkan. Setidaknya dengan adanya kamu, Tuhan jadi tidak terus menerus menyesal karna telah menciptakan kejujuran.” 

Ayah memeluk ku erat, dia mengecup keningku dan memberikan senyum terbaiknya untukku. Ayah, terima kasih. Kelak tidak akan ku kembang biak-kan kebohongan yang akan menghancurkan kepercayaan. Sungguh ayah, aku bersungguh-sungguh dengan ucapan ku.
***
Terispirasi dari ayah saya, Muhamad Yusuf sang pemupuk kejujuran dan pembenci kebohongan. kusisipkan prinsipmu dan prinsipku dalam tulisan ini. Dad, I learn many things from you and You're my biggest inspiration in my life, ever.  

Posted for project writing #IWritetoInspire #14daysofnspiration #1stDay:Trust(Kepercayaan)
Read more...
separador

Jumat, 05 Juli 2013

Zu Morgen

“Hei girl, I love you. If you love me, let me know. if you don't gently, let me go.”

Kalimat dalam salah satu pesan teks yang kubaca lagi dan lagi. Akh seandainya mengungkapkan sebuah kata cinta semudah menegak segelas limun favoritku. Tapi pada kenyataannya tidak demikian. entah kau yang terlalu pagi datang atau aku yang terlalu banyak menimbang. Dan seandainya saja mengungkapkan sebuah kata bernafaskan penolakan dapat mudah keluar semudah ku keluarkan tanganku dijendela dan menyentuh rinai kesukaanku. tapi pada kenyataannya tidak demikian. Entah kau yang terlalu tidak peka atau aku yang terlalu tidak tega.

Cinta menurutku bukanlah suatu perkara main-main, yang bisa diucapkan seenak jidatnya. Apalagi jika mengingat rentang berinteraksi kita masih sangat minim, sangat singkat. Sesungguhnya aku begitu muak dengan cinta yang meledak-ledak, merekah begitu membara pada awalnya lalu perlahan meremang pada akhirnya. 

Aku percaya bahwa aku, apa lagi kamu bukanlah manusia yang baru mengenal cinta. karna sebelum kita saling bertemu di "halte" yang sama, nyatanya sudah banyak "halte-halte" lain yang pernah kita lewati sebelumnya. tapi kau sungguh membuat perutku geli, melihat tingkah lakumu yang bak anak baru remaja kadang ingin sekali kusodorkan KTP-mu didepan muka. Haha, tuh kan aku tertawa lagi!
Mungkin cara penyampaian setiap orang berbeda-beda ya? Ya ya ya. Dan aku harus pura-pura kelu dan berusaha paham agar hatimu tak terluka begitu parah. Hingga detik ini aku belum tahu bagian mana dari diriku yang begitu membuatmu terpesona sedemikian rupa. Mataku, bibirku, lekuk tubuhku, sepertinya semuanya terlampau biasa. Pribadiku? Sungguh, waktu sesingkat itu tak akan membuatmu mengenalku secara seutuhnya.
***
PAGI! Aarrgh zzzz ngek ngok ngek ngok. Ya lagi lagi tadi malam aku tertidur dalam lamunan panjang dan pikiran menggumpal. Haha. Pikiranku tentang dia masih saja tergeletak lesu dipojokan kamar, berharap tersentuh lagi oleh ku? Oh sorry, ini sudah pagi. mungkin akan kusentuh kau lagi nanti. Tapi entah kapan.

Waktu menunjukan tepat pukul 05.30. Matahari masih malu-malu keluar dari peraduannya. Ku tengkok telepon genggamku, ada pesan beruntun yang sengaja ku abaikan sejak malam tadi. Dari pengirim yang sama, dengan isi pesan teks dengan esensi yang tidak jauh berbeda. Aku mengela nafas dengan sisipan tertawa didalamnya. Permainan ini harus segera diakhiri.

"
I never asked you to stay. Go as far as you want to :)"
--Send--

Read more...
separador

Jumat, 28 Juni 2013

Do'a Besar si Kecil

"Sudah malam sayang, ayo segera bersihkan tubuhmu sebelum menaiki kasur. Kalau tidak nanti kau akan digotong oleh ribuan semut karna kakimu yang masih banyak coretan crayon dan remahan cokies!"

"Aaaaa semut semut kecil, diam diam merayap datang monster dan berubahlaaaah! Ppssst psst Ben 10 berubaah! Baiklah ibu aku akan segera menyikat bersih gigiku dan akan kugosok kencang kakiku. Hiyaaat!"

***

Kemarilah aku akan bercerita tantang sesuatu yang sangat sederhana, kisah sebuah negri yang sangat besar kandungan harta dalam perut tanahnya, sebuah negri yang elok dangan pemandangan oasisnya, negri yang gemerlap karna bangunan beratapkan emas kepunyaannya, sebuah negri yang dahulu sangat ingin sekali kudatangi karna manjadi kota suci beberapa agama. kau tau nak? Didalam negri itu sangat berbeda dengan tempat tinggal kita yang sekarang, dia punya banyak lahan lapang untuk kau bermain sepak bola, tidak seperti disini yang bahkan untuk bermain bola bekelpun mungkin sudah tidak leluasa.

Aku pernah mendatangi negri yang indah dan menawan itu nak, tapi ketika aku datang suasana sudah sedikit berubah. Ya, mengapa aku menyebutnya sedikit berubah? Karna negri yang dulunya sangat damai, sekarang berubah menjadi sedikit-sedikit terjadi konflik. Negri yang dulunya sangat tenang, sekarang berubah menjadi sedikit-sedikit dentumah bom dan pekikan peluru datang bagaikan hujan. Negri yang dulunya riuh oleh suara tertawa geli anak-anak negri sekarang berubah menjadi riuh suara teriakan ketakukan anak-anak ngeri.

Banyak ibu yang setiap hari menumpahkan seluruh air matanya berdoa untuk kebebasan negri kelahirannya, banyak ayah yang setiap hari melempar peluh berusaha mencari cara agar kedamaian dapat didapatkan, banyak anak-anak kecil rela mengganti mobil-mobilan menjadi batu kerikil dalam genggaman, banyak suara tangis bayi baru pecah tetapi sudah harus menanggung beban berat diatas pundaknya yang mungil dan lemah. Do'a ibu, peluh ayah, harapan negri sempurna menjadi balutan pertama bayi yang baru lahir itu. karna bisa jadi, kebebasan dan kedamaian bisa direnggut dari tangan kecilnya.

Kau tau nak? Banyak anak kecil seusiamu yang tinggal disana tak mengenal apa itu Ben 10, apa itu Buzz lightyear atau semua karakter kartun yang ada di box mainanmu. Yang mereka kenal adalah suara desingan peluru dan dentuman bom dan percikan api yang selama ini kau lihat pada saat perayaan new year di Time Square, namun pastinya tak seindah dan serapi yang kau bayangkan nak.

Konflik yang mendera negri itu sudah lama meradang dan belum terselesaikan. Banyak hal yang mendasari peperangan itu terjadi, dan hal utamanya adalah propoganda agama. Nak, ketahuilah tidak ada satupun agama yang menghendaki perpecahan dan permusuhan. Setiap agama mengajarkan tentang menghargai satu sama lain. perbedaan diciptakan bukanlah sebagai media untuk bermusuhan. Kau tau pelangi nak? ya, pelangi disusun oleh warna yang berbeda. Kalaulah Tuhan menciptakan pelangi hanya warna merah saja mungkin tidak akan semenarik yang sekarang. mungkin, Tuhan yang disebut oleh berbagai macam nama dan yang disembah oleh berbagai cara ingin kita seperti pelangi, biarpun berbeda namun tetap bisa dipersatukan dengan indahnya.-

"Ibu, dimana negri itu berada? dan apa yang harus aku lakukan untuk membantu mereka?"

"1 hal yang sangat mungkin kamu lakukan sekarang adalah, mulailah menghargai setiap perbedaan yang ada. Jangan mudah marah jika temanmu tidak suka dengan Ben 10 kesayanganmu, karna pasti ada alasan yang mendasari dia tidak suka. kamu mau tau nagri itu dimana nak? negri itu bernama Palestine. Biarpun itu adalah negri islam yang berbeda dengan kita, tapi setiap manusia memiliki hak yang sama untuk mendapatkan kedamaian. ingat nak? Hargailah perbedaan, karna Tuhan menciptakan "pelangi" tidak hanya ada diatas langit, tapi juga dibumi. Berdoalah semoga semua masalah cepat terselesaikan. Yyo pimpin do'a untuk sebelum tidur."

"Ya Tuhan, semoga teman-temanku yang ada disana bisa segera mengenal Ben 10 agar nantinya bisa bermain bersama dengan aku. dan semoga benar-benar kembang api yang menghiasi langit palestine. Segeralah kabulkan do'a ku Tuhan karna ini urgent. Terima kasih karna telah menjadikan aku merah, dia jingga, dan mereka hijau. Semoga kau benar-benar dapat melihat pelangi yang kami buat diatas bumi. Amin"

***


Read more...
separador

Sabtu, 01 Juni 2013

Wahai, Aku cemburu!

Selamat malam sayang,
Aku merindumu. Sebentar, tapi sungguh itu adalah kata-kata yang pertama kali muncul dalam dimensi pikirku. Kamu ingat tidak? Di senja yang sangat menegangkan itu, kita pernah sama-sama mendeteksi detakan jantung kita masing-masing, menghitung helaan nafas kita masing-masing bahkan mengontrol kedipan mata kita masing-masing. Aku dan kamu secara bersamaan menundukan kepala dan menanti ucapan ayahmu sampai pada titik pemberhentiaanya. Setalah kalimat ayahmu sampai pada ujungnya kamu yang masih tertunduk merasakan guncangan pelan namun pasti tudung yang kita kenakan bersama. Aku memandang yakin kearah ayahmu dan sempurnalah terucap kata-kata sakral yang pertama kali dialamatkan hanya untukmu. SAH! Ketika gemaan kata itu memenuhi ruangan maka sempurnalah jatuh tanggung jawabmu di atas pundakku.

Jelitaku,
Masih sangat harum ingatanku pada saat dimana pertama kali kita bertemu. melihat senyum yang selalu menghiasi wajahmu kala anak-anak bocah bermain kejar-kejaran dan berusaha bersembunyi dibalik badanmu, kau merunduk menyamakan tinggi dengan bocah itu dan menyentuh pipi mereka. kau tau? jilbab diwajahmu kulihat seketika melembut sayang. Pemandangan itu membuat senyumku otomatis mengembang. aku yang sejak awal tidak terlalu yakin dengan apa yang ku rasa dan hanya berani memasukannya dalam domain kekaguman. Ya, hampir 3 bulan aku memperhatikanmu dari kejauhan, sungguh awalnya aku merasa tidak sepadan dengan bidadari sepertimu. "Bagaikan punuk merindukan bulan".

Setelah aku tau ternyata kau adalah salah satu mahasiswi FIB tingkat akhir yang kuliah di daerah Yogyakarta. Pantas aku jarang melihatmu disekitaran rumah. Sesekali kamu datang ke acara remaja masjid yang didalamnya akupun ikut ambil peran. Beberapa kali kita sempat sahut menyahut pendapat, lengkap melengkapi ide dan sungguh saat itu aku bangga akan kecerdasanmu dalam berbicara dan menyusun kalimat. Kau pintar membuat orang lain kagum, sungguh. Sayang. Aku hanyalah seorang laki-laki muda biasa sekitaran rumah. Sedang kamu? Bak puteri bangsawan dari negri seribu castel. derajat kita berbeda tuan puteri.

Kamu ingat sayang, saat dimana kita berpapasan jalan? Membicarakan banyak hal dan menceritakan serentetan mimpi kita masing-masing? Banyak tawa pecah, senyum kita berserakan dimana-mana, candaan kecil kita obral bahkan pertanyaan serius yang kadang aku dan kamu lemparkan. Sampai pada satu titik crucial aku memberanikan diri untuk melontarkan pertanyaan ini "De... Kapan terget menikah?" senja yang tadinya ramai seolah meredam dan hanya ada suara langkah kaki kita. kamu menganggkat wajahmu dan melemparkan senyuman manis itu "Aku gak punya terget pasti mas, kalau memang sudah ada seorang lelaki yang datang ke ayah dan ayah merestui ya monggo.. Insya Allah saya sami'na waa ato'na sama semua yang di ucapkan ayah". Aku merekam semua kata-katamu senja itu sayang, dan sungguh banyak pemikiran orang-orang yang salah memandang kamu dan keluagamu. Kesederhanaan menjadi identitasmu, mau bagaimanapun kondisi keluagamu saat itu ataupun nanti.

Tidak ada yang berubah semenjak percakapan itu, kau kembali ke kota dan ladang jihadmu, dan aku tetap mengumpulkan sedikit demi sedikit keberanian untuk mendatangi ayahmu. Bak rakyat jelata yang ingin menghadap raja. Kuketuk istana tempat kamu dibesarkan dan terbukalah pintu awal itu. Ya, terbukalah pinti awal itu dengan sangat lancar tanpa ada hambatan. Maka benarlah janji Allah bahwa Dia akan memudahkan semua niatan baik. Lagi-lagi sayang, bayak orang diluar sana yang tidak mengenal keluargamu dengan baik tapi dengan PD-nya mengumbar hal hal yang berlebihan. Kata siapa ayahmu adalah sosok yang menakutkan? Tidak, dia humoris. Sungguh. Kata siapa ayahmu adalah sosok yang menilai seseorang dari materi yang dipunya? Tidak, dia menilai seseorang dari otak. Sungguh.

Aku dan kamu menjalani masa taaruf selama 2 bulan dengan dibumbui perhatian yang alakadarnya dan tidak berlebihan. Semata hanya untuk membuat satu sama lain semakin yakin dan menaburkan benih benih cinta yang akan berkembang jika memang sudah waktunya. tidak diumbar seperti kebanyakan orang, saling mengucapkan "Aku cinta" lewat perantara Sang Maha Cinta. Saling melabuhkan pengharapan lewat Sang Pengumpul harap berupa Do'a. saling menyemangati untuk menyelesaikan tugas akhir kita sama-sama, dan ah sudah. Sungguh itu sudah sangat cukup sayang.

Sekarang istana kecil kita sudah dihiasi oleh suara tangisan sang pangeran kecil yang gagah biarpun masih dalam gendongan, dia mengambil seluruh tatapan hangat kepunyaan kamu sayang. Aku harus berusaha keras membuat senyuman pengeran itu mengembang, karna dia sempurna mengambil sifat suka ngambek kepunyaan aku. iyah, sekarang aku jadi tahu bagaimana rasanya disiram ambekan subuh subuh buta.

Sayang ketika aku mengetik semua huruf ini pangeran kita sudah terlelap dalam dekapan selimut kesayangan kamu, dan aku akupun sudah terhanyut dalam dekapan rindu yang selalu beralamatkan hanya untukmu. Kamu tahu sayang? Kamu adalah perempuan yang sangat kuat dalam segala jihad yang sedang kamu hadapi. Aku pernah begitu tertariknya pada saat kamu memanggil namaku cepat hanya untuk mengatakan "Mas... tadi aku habis baca artikel, di dalam artikel itu dikatakan bahwa sebaik-baiknya perhiasan adalah wanita sholihah dan wanita sholihah lebih baik dari bidadari-bidadari di syurga. Mas, wanita sholihah bisa membuat bidadari-bidadari syurga cemburu mas. Hhm aku bisa gak ya jadi salah satu yang membuat bidadari syurga cemburu?"

Malam itu, 3 bulan yang lalu tepat pada tanggal kesukaanmu 23, kamu sempurna membuat seluruh bidadari syurga cemburu karna ribuat malaikat menyambutmu dengan bagitu hangat. Suara tangisan pangeran kita pecah bersamaan dengan bisikan lirih kalimat dua syahadat yang berusaha kau ucapkan. Saat itulah aku bagaikan dipukul dari berbagai arah. Sedih luar biasa karna harus kehilangan sosok lembutmu tapi dalam detik yang sama aku bersyukur karna telah resmi menjadi ayah dari anak laki-laki yang sempurna tanpa cacat sedikitpun.

3 jam sebelum kejadian mengharukan sekaligus menggembirakan itu kamu sudah terbaring diatas ranjangmu, menanti detik-detik menegangkan dan penyempurnaan sebagai seorang wanita. aku? Cemas luar biasa! Tapi kamu masih saja memasang sneyuman lembut itu malah sesekali meledekiku "mas, jangan tegang! muka tegang kamu jelek, bikin aku mau ketawa. Ganti aah mukanya!". Malah sempat-sempatnya kamu mengucapkan kalimat yang membuat keteganganku semakin berkurang sekaligus bertambah karna menebak maksud dari ucapanmu. "Mas... kamu ingat saat dimana pertama kalinya aku mengucapkan keinginanku? Aku ingin membuat bidadari syurga cemburu mas. tapi aku masih merasa kurang sholihah, aku masih sering ketiduran sholat tahajud, kadang juga mas duluan yang bangun tidur dibanding aku. Aku minta maaf mas, kalau selama ini belum bisa menjadi isteri sholihah sesuai dengan keinginan mas. Aku hanya ingin mas ridho dengan semua yang aku perbuat, itu sudah sangat lebih dari cukup. sungguh.."

Detik saat dimana kamu mengalami pendarahat dahsyat disela konsentrasi penuhmu dalam mengerahkan seluruh tenaga masih sempat sempatnya kamu mengucapkan dengan nada yang sedikit bisa kudengar "Mas.. Apakah mas ridho dengan aku?" Sungguh bukannya ingin tidak mengiraukan ucapanmu kala itu jelitaku, hanya saja aku melihat jilbab diwajahmu benar-benar melembut. Dengan sisa sisa udaha yang kamu punya akhirnya aku memberanikan diri utuk berbisik ditelingamu "De... Mas ridho atasmu, sungguh mas ridho" setelah kalimatku ditangkap oleh gendang telingamu, kamu makin menyimpulkan indah sebuah senyuman untukku dan pangeran kecil kita memacah keharuan dengan buncahan tangisannya. kamu meninggalkan aku dan pangeran kecil kita dengan hiasan senyum dalam wajah.

Sungguh sayangku, malam itu kamu sempurna membuat bidadari syurga cemburu dan membuat mereka kalang kabut karna memiliki saingan kuat ketika kau masuk didalam salah satu dari mereka. bahagialah disana bidadariku, semoga kelak keluarga kita akan bersatu dalam JannahNya. Aminn..

Pangeran dan raja sangat merindukanmu, puteri ratu. Ah memang benar, bidadari itu kan tempatnya di Khayangan!
Kamu berhasil membuat bidadari syurga cemburu dan kamu juga berhasil membuat aku cemburu pada dibadadari syurga yang dapat didekatmu setiap hari.


note : Teruntuk seluruh wanita didunia, kalian kuat jauh lebih dari yang kalian tahu. Sungguh.
Read more...
separador

Minggu, 19 Mei 2013

Secangkir Rindu yang Getir

Teruntuk wanita yang tak merinduku

Halo, apa kabar?

Aku harap kamu baik-baik saja dan selalu bahagia. Bagaimana keadaanmu sekarang? Lebih baik? Aku mengharapkan apa-apa yang terbaik untukmu.

Ada yang bilang, jatuh cinta itu seperti menebak langit. Kau tak tahu warna apa yang akan muncul satu jam kemudian. Mungkin cerah, mungkin juga hujan. Namun sayangnya, aku terlalu jatuh. Seperti jatuh dari eksosfer ke tanah, jatuh dari dataran tinggi Tibet ke dataran terendah di bumi, laut mati.

Sakit.

Teruntuk wanita yang tak merinduku.

Tahukah kamu bagaimana rasanya? Rasanya jatuh cinta pada orang yang bahkan tak pernah merindumu, pada orang yang bahkan tak tahu hadirmu, pada orang yang bahkan tak tahu ada lelaki yang sedang merindukan semua tentang dirimu? Sebut saja lelaki itu, aku.

Teruntuk wanita yang tak merinduku.

Aku menunggu. Aku menunggu kamu untuk menyapaku terlebih dahulu. Aku menunggu kamu yang menggenggam erat jemariku. Aku menunggu kamu yang menatap kedua bola mataku. Aku menunggu kamu yang tersenyum hanya untukku. Aku menunggu kamu..namun ada yang lain yang sedang kamu tunggu, dan itu bukan aku.

Teruntuk wanita yang tak merinduku.

Kamu paling tak tahan dengan menunggu. Kamu bahkan pernah memarahiku karena telat 8 menit hanya untuk membukakan pintu.

Lain halnya dengan sekarang. Mungkin, menunggu berapa lama pun kamu sanggup jika untuk lelaki yang kamu sayang. Sedangkan aku? entahlah..

ditunggu delivery mogu-mogunya,, 


Teruntuk lelaki yang sangat besar sok taunya.

Kamu adaah lelaki yang paling sok tau yang pernah aku temui. Siapa bilang aku tidak merindumu? Apa dengan terus mengingat tempat biasa kita bertemu, mengingat tempat biasa kita duduk bersama, meniti jejak yang sama pada saat kita mengukur langkah dari terminal sampai rumah, mengingat terus tanggal kita bersatu bahkan tanggal kita berpisah, dan seketika mati ditikam rindu pada saat ku dengarkan playlist yang sama pasa saat kita masih bersama itu bukan rindu namanya?
 

Teruntuk lelaki yang sangat besar sok taunya.
 

Kamu sakit, aku tau jelas itu. dan tanpa aku sadari kesakitanmu juga kurasakan belakangan ini. 
Sekarang aku merasakan bagaimana rasanya merindu tanpa dibalas, bagaimana rasanya antusias di balas dengan kedataran, bagaimana rasanya kesepian, bagaimana rasanya bingung harus mengatakan apa dan pada siapa. Kehilangan ini mengajarkan aku banyak hal, terutama belajar merasakan apa yang kamu rasakan.
 

Teruntuk lelaki yang sangat besar sok taunya.
 

Aku ingin menghampirimu, tapi aku takut. takut berbuat kesalahan yang sama lagi seperti dulu. Kamu terlalu sakit. dan aku benar-benar menyesali semua itu.
Maafkan aku wahai lelaki yang sangat besar sok taunya.
Tapi satu hal yang perlu ku tekankan disini.
Kamu tidak sendirian, aku pun merindukanmu. sangat. Mungkin lebih besar dari rindu milikmu.
 

Ditunggu juga traktiran mogu-mogunya.. 

Kepadamu, aku menyimpan cemburu dalam harapan yang tertumpuk oleh sesak dipenuhi ragu.

Terlalu banyak ruang yang tak bisa aku buka. Dan, kebersamaan cuma memperbanyak ruang tertutup.

Mungkin, jalan kita tidak bersimpangan. Ya, jalanmu dan jalanku. Meski, diam-diam, aku masih saja menatapmu dengan cinta yang malu-malu.

Aku dan kamu, seperti hujan dan teduh. Pernahkah kau mendengar kisah mereka? Hujan dan teduh ditakdirkan bertemu, tetapi tidak bersama dalam perjalanan. Seperti itulah cinta kita. Seperti menebak langit abu-abu.

Mungkin, jalan kita tidak bersimpangan….

— hujan dan teduh


Kepadamu, aku pun masih sering memetikkan dawai kekeheningan ketika malam mulai menerkamku sadis dari belakang.
 

Aku mengetahui hakikatnya memang selau ada sisi yang tidak bisa dideteksi oleh jangkauan nurani.
 

Kita sama-sama berjalan, mungkin dalam satu fokus dan tujuan yang sama, tapi layaknya hulu sungai semakin jauh maka semakin besar tepian dan semakin banyak pula anak sungai disana. tenang, sebanyak apapun anak sungai yang membelah, semua aliran itu tetap terfokus pada satu ; laut.
 

Masihkah wajar sekarang membahas tantang cinta diantara kita?
jangan membuat ku kelu, karna sekarang makna cinta dalam diriku kian lama kian memudar. kian lama kian berpendar.


Mungkin benar malaikat itu tak bersayap,
mereka terbang karena ringan

Dan aku tak perlu memohon padamu untuk memperbaiki sayapku yang telah kau patahkan
karena aku hanya perlu ringan untuk kembali terangkat, melayang, dan terbang


Sayapmu memang pernah kupatahkan, aku mengakui itu. Tapi aku rasa sekarang kau sudah membuang sayapmu yang rusak dan sudah kau ganti dgn sayap yang baru. Selamat. terbang. Ketempat yang jauh lebih tinggi. Melebihi pencapaian sayapmu yang dulu. selamat. terbang. terbang.


Yang menyakitkan adalah ketika kamu merampas pena, sehingga tak bisa lagi ku tulis cerita tentang kita, pun rasa sudah kau tamatkan lebih dulu
— Tanpa awal, tanpa akhiran


Buat apa lagi menulis tentang kita, jika nyatanya ada cerita baru yang mungkin menurutmu lebih seru. Jika memang pena itu kurebut, bukannya dapat dengan mudah kau pakai pena yg lain untk menuliskan kisah yg lain.

Kamu cemburu?


Masih perlu ditanyakan?

Ya ku tak berhak menanyakannya pun gak berhak untuk mengetahui jawabannya..

Jangan mempertnyakan pertanyaan yg udah jelas kamu tau jawabannya!





Read more...
separador

Selasa, 09 April 2013

Tatapan Mata dalam Maya


Aku di sini tak berjarak dengan semua koneksi yang bisa menghubungkan rinduku dan rindumu. Kusingkirkan semua hal yang dapat menambah milimeter jarak antara sosokmu dalam imajiku. Aku bersiap mengambil posisi terbaik di depan wabcam yang dapat menangkap keseluruhan dari rinduku. Menanti wajah teduhmu masuk ke layar laptopku adalah saat-saat yang menegangkan bagiku. 

Now we’re connecting…

Selamat senja, Putra.
Ketika aku melihat wajahmu, maka lelahku luntur tersapu sekejap mata, Putra. Aku jadi teringat, jika aku melahap habis senyummu senja ini, akankah senyum itu yang kau sajikan untuk perempuan lain di luar sana? Aku harap tidak, karna ulah senyuman itu kau membuatku jatuh ke lautan tersunyi yang pernah kutemui.

Selamat senja, Sunny.
Senyum ini sebenarnya bukan untukmu, tapi untuk setiap senyummu. Jika kau tersenyum, senyumku akan mengikuti setiap lengkung senyummu. Kau pasti tak pernah melewatkan pelangi, bukan? Kau pasti sudah paham, jika pita merah bianglala itu melengkung sempurna, lengkung pita jingganya pun tak pernah kalah sempurna. Senyummu merah, senyumku jingga.
Bagaimana harimu, gadisku? Ah, pertanyaan klise. Aku selalu kehabisan kata jika kau tersenyum seperti itu.

Hariku ini biasa saja, Putra, tapi itu hanya berlaku sebelum kujamah habis wajahmu. Kamu tahu, kan, kalau kamu paling ahli menyulap hariku yang biasa menjadi sempurna tak terkira, Putraku, cahaya keduaku.
Ribuan zaman telah kuhabiskan dalam kesunyian, dan kau hadir di saat yang telah Tuhan tentukan, Putra, ketika pertama mata kita saling bertemu nyatanya aku merasa telah lama mengenal teduh itu. Teduh yang kau pancarkan dari kedua bola matamu.

Ah, kau bawa lagi ingatan itu, Sunny. Ingatan tentang betapa cinta yang diam-diam menyelinap masuk melalui celah-celah kecil di hatiku itu, semakin indah sejak kutatap matamu dalam-dalam. Semakin kuat sejak kugenggam jemarimu erat-erat. Dan semakin tumbuh besar sejak kita tak lagi punya daya menyimpan cinta rapat-rapat. Hingga semua rasa tumpah dalam waktu-waktu bersama yang kita beri makna.
Tapi apa daya, kini kita hanya bisa bertatap dalam layar kecil ini. Jemarimu tak bisa lagi kugenggam erat. Tapi kuyakinkan kepadamu, gadisku, aku tak pernah lupa melangitkan doa dalam setiap malam-malamku sebelum aku terlelap. Aku selalu meminta Tuhan kita, agar Dia bersedia pertemukan aku dan kau, meski hanya dalam mimpi. Dan tak pernah alpa kusambut hadirmu di alam surgawi yang tercipta saat mata ini terpejam.

Aku memang bukan sejarawan yang menghafal setiap detail peristiwa berkembangnya kerajaan Majapahit, tapi cukup bagiku bila dengan fasih dapat kuulang potongan sejarah berkembangnya perasaan aku terhadapmu, Putraku.
Salahkanlah aku! Karena ketika dulu tak dengan serius kupelajari tentang teori Fisika. Karena ketika kita berada dalam satu frekuensi, seketika hatiku jatuh dipangkuanmu dan lupa akan gravitasi.

Tak perlu menyalahkan apa dan siapa. Akulah yang bersalah, hingga membiarkan bentangan jarak menjadi penghalang bertemunya tatap kita. Tapi kau tetap tenang ya di sana, tunggulah saat-saat aku kembali. Saat-saat nanti kugenggam lagi jemarimu, saat-saat nanti kutatap lagi matamu dalam-dalam.
Gadisku, yang sangat aku rindukan. Aku pergi hanya sementara, berjuang merintis bahtera masa depan kita, agar kelak kita siap berlayar mengarungi samudra kehidupan kita.

Ah, begitu nampakkah kegundahan dalam wajahku ini hingga dengan cekatan kamu menenangkanku dengan barisan kata-kata indahmu? Aku akan menanti kamu, Putra, pangeran tanpa kuda gagah dalam hidupku.
Aku masih mengigat janji yang kamu tandakan dalam kalender surga, Putra, biar sela jari yang tercipta untuk diisi oleh jarimu masih kosong tak berpenghuni, tak apa. Asal kamu mengisi setiap sudut dalam ruang sadar dan tak sadar dalam otakku.
Putra, dominasi not dalam detak jantungku.
Pernah ku memahami jelas tentang lensa cembung, cekung dan datar, urutan proses sebelum benda terefleksi sempurna. Setelahku mengenalmu, maka terciptalah lensa baru, kunamakan ini lensa cinta karna dalam lensa cinta bayanganmu masuk ke dalam lensaku, menetap dan diperbesar setiap harinya.

Sunny,
Tak satu detik pun dalam hari-hariku cinta itu berkurang, cinta yang kita jaga dengan penjagaan yang kita serahkan kepada Tuhan, Sang Pencipta rasa itu sendiri. Biarkanlah Dia genggam janji-janji kita, hingga nanti, jika saatnya sudah datang, janji-janji itu akan mampu kita penuhi dengan segala kekuatan yang Dia pinjamkan.
Gadisku, yang begitu aku cintai. Kau jangan pernah lupa mendoakanku, ya. Karena dengan doamu dari sana, aku tenang dalam pengembaraanku di sini. Doakanlah aku senantiasa, maka angin akan sedia mengalirkan doa-doa itu menuju singgasana-Nya.

Ah, sayang, kamu mengingatkanku untuk mendoakanmu? Itu sama saja kau menggurui katak untuk melompat, karna nyatanya di setiap helaan nafasku, sempurna teruntai doa yang beralamatkan untukmu.
Putra, kini aku hanya memiliki satu rangkaian setia dan satu kotak berisikan hati, apakah itu cukup untuk bekal perjalanan panjang kita sampai nanti?

Aku tahu, Sunny.
Aku hanya memastikan agar doa-doa yang kita langitkan bisa bersama-sama sampai di hadapan-Nya dan menunggu waktu untuk Dia kabulkan.
Bahkan setitik hatimu saja sudah lebih dari cukup, sayang. Tak perlu kau berikan seluruh hidupmu, tak perlu kau korbankan semua waktumu. Karena hidup dan waktumu bukan untukku, juga hidup dan waktuku bukan untukmu, tapi untuk kita jalani bersama, hingga akhirnya kita tak lagi miliki hidup dan waktu di kala senja menghampiri kita.

Tuhan Maha Pencinta, Dia yang membuat aku dan kamu saling merajut cinta setiap waktu di kala senja, kita lukiskan pelangi ribuan pixel di luasnya langit rindu kita.
Putra, berkat kamu kata “aku dan kamu” sempurna melebur menjadi satu dan terlahirlah kita untuk mewakilkan rasa yang sama-sama kita jaga.

Benar katamu, gadisku, Tuhan Maha Cinta, Maha Kasih, dengan cara-Nya mempertemukan aku dan kamu dalam koridor cinta yang tak terbayangkan olehku sebelumnya. Dia juga Maha Sempurna, betapa Dia sempurnakan rasa yang setia mendiami hati kita meski jarak tak mampu lagi kita taklukkan.
Malam sudah mulai larut, Sunny. Sudah saatnya kita bertemu dalam alam yang memang Tuhan ciptakan bagi setiap hati yang saling mencinta namun terpisah oleh bentang jarak.  Kau tahu, aku sudah tak sabar ingin menyambutmu segera di sana.

Kalaulah dapat kucairkan rinduku maka niscaya seluruh ruang gerakku dipenuhi sesak oleh kata-kata lirih pertanda ingin segera bertemu.
Putraku, nafas keduaku, bulir nadiku.
Rindu ini semakin memuncak setiap detiknya, jika kupejamkan kedua mataku seketika tergambar wajah dan tercium pekat harummu.
Aku memang sedang mempelajari tentang psikologi tapi berkat cintamu dapat kurasakan jelas sosokmu merambah masuk dari alam sadarku sampai alam bawah sadarku, kau menetap di situ.
Ah dasar kamu! Orang yang paling ahli membuatku lupa akan waktu, sudah malam yah, sayang? Inikah pertanda kita harus mengucapkan pisah di tengah jalan?

Apalah arti perpisahan sementara ini, bila nanti kita akan bertemu di alam mimpi, bersatu tanpa seorang yang mengganggu. Masih ada hari esok, gadisku. Mari kita beri waktu bagi rindu untuk kembali memendam butir-butir rasa, hingga esok kutemu kembali wajah manismu dari layar ini lagi. Bercerita lagi tentang harimu. Sekarang saatnya kita jaga kesehatan, ini untuk masa depan kita juga, bukan?

Ini adalah detik aku melepasmu dan aku akan kembali lagi pada kenyataan memeluk bayangmu dan menggenggam hampa jemarimu, terima kasih melodi nafasku. Cukuplah bagiku beristirahat beralaskan kata-kata indahmu dan berselimutkan hangatnya senyumanmu. Temuilah aku di senja yang lain, sayang.
Kamu diam, aku mati.
Kututup percakapan dengan kecanggungan yang mengakar. Ya, aku adalah perempuan yang bodoh dalam mengucap perpisahan seakan kelenturanku dalam merangkai kata menjadi beku seketika wajahmu menghilang dari layar, tapi tidak akan pernah kuizinkan parasmu lenyap dalam ingatan.

We're always Connecting... always.

Read more...
separador