Tampilkan postingan dengan label #AWeekofCollaboration. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #AWeekofCollaboration. Tampilkan semua postingan

Minggu, 03 Maret 2013

Awal mu adalah Akhir ku

Pipipipip Pipipipip
Suara alarm Handphone kesayanganku berbunyi tepat pukul 05.00, aku membuka mataku dan benda pertama yang kuraih tidak lain dan tidak bukan adalah Handphone ku. Matiin alarm, buka notification yang numpuk karna tadi malam aku ketiduran.
"Pagi-pagi udah dapet pesan yang gak ngenakin. Ih yang namanya orang ketiduran ya gak bisa bilang-bilang laah" gerutuku pada pesan pacar yang tidak terima karna aku tidur tidak memberitahu dia.
Kubanting Handphone ke kasur, ku ganti dengan handuk dan beberapa potong baju yang akan ku gunakan untuk ke kampus hari ini.

Selamat pagi dunia~
Hari baru ku sempurna dimulai pada saat aku siap mengambil langkah pertama menuju kampus dengan pakaian yang masih halus di setrika dan parfum merembak kemana-mana.
Aku Siap!

"Sarapan dulu! Baru boleh berangkat!" Kak Lisa memperingatkanku saat ia lihat aku sudah berdandan cantik keluar kamar. Aku mendekatinya, menyicipi masakan yang ia buatkan pagi ini.
"Eeeh... Sekarang kamu genit ya! Udah pakai eyeliner segala. Kuliah itu belajar bukan ajang kontes kecantikan!"
Dia mencubit lenganku.
"Berisik ka!"
Aku memukul pipinya pelan. Lalu kami berdua tertawa, sambil menghabiskan sarapan pagi ini. Selain Ibu, hanya Ka lisa kakak paling cerewet yang aku punya. Biarpun ibu tidak ada dirumah, kecerewetan Kak Lisa sudah cukup menghidupkan rumah ini, menurutku. Mau bagaimana lagi, aku dan kak lisa memang tak pernah tahu dimana Ibu. Kami hanya tinggal berdua di rumah peninggalan mereka. Ibu menghilang begitu saja. Sedangkan Ayah? Wah aku tidak pernah tahu harus berkata "Ayah" pada siapa. Kami tak pernah tahu siapa ayah kami.


"Kak udah ah, aku takut telat Pelajarannya prof Malik neeeh, Killer. kalo telat dikit bisa di gantung di pojokan kelas!" aku pamitan sambil sibuk melangkah keluar.
"eey emang pacarmu udah jemput apa?" "udah nyonyaaa. bye" aku berlalu.
Setiap hari aku selalu di jemput pacarku untuk ke kampus, yaah inilah untungnya punya pacar yang satu kampus, ada kang ojeg gratis. hehe
"Sayaaaang~" aku mendekat dan langsung merangkulnya. Selain tukang ojeg, pacarku juga tukang ngambek. masih inget kan kalo dia ngambek karna aku ketiduran tadi malam? iya, ngambeknya berkepanjangan sampai dia jemput aku di depan rumah. "jangan ngambek dong ganteng, akunya kan ketiduran, jadi mana bisa ngasih tau kamu? aku aja gak ada niat buat ketiduran kok. suer! bagi senyumnya dooong? dikasih gak yaa?" aku sukses menggodanya sampai senyum paling manis kepunyaan pacar tersayang mengembang sempurna.
"ah kamu! udah nih senyuuum. ayo naik, prof Malik nih. mau di gantung kamu?" jawab dia.
"kalo aja di surru milih, mending di gantungin sama Prof Malik diujung kelas sama di gantungin hatinya sama kamu. bekh aku mendingan di gantung Prof Malik yank! sungguh!" gombalku.
"iiii dasar kamu" dia tersenyum sambil mengusap-usap rambutku.

Iya, aku masih "pelontos", aku tidak berhijab seperti kakakku. Ngapain juga berhijab sekarang? kan masih muda? pacarku juga gak keberatan aku belum berhijab. Tunggu Hidayah aja deh, itu yang selalu bergeming didiriku.

"Nih." Si ganteng menyodorkan helm untuk kugunakan. Tak lama kami melaju menuju kampus.
***
Siang ini sungguh terik. Raja siang kokoh berada tepat di bawah ubun-ubunku. Suasana kampus sudah terlihat ramai sejak beberapa menit yang lalu. Di waktu seperti ini memang merupakan jam istirahat masal bagi semua mahasiswa. Aku masih di taman, sendirian. Romi belum juga datang. Tadi setelah kelas Prof Malik selesai ia segera pergi meninggalkanku. Katanya mau buatkan surpise untukku karena hari ini merupakan momen yang menandakan kalau aku dan Romi sudah empat bulan berpacaran. Oke aku surprise. Terlebih dia romantis. Tukang ngambek iya, banyak makan juga, tapi aku suka semua sifatnya.
Iya, dia itu penuh dengan kejutan, sampai sekarang aku gak habis pikir berapa lama dia menyiapkan kejutan ini. Dia meminta aku untuk tunggu dia di salah satu sisi taman halaman kampus kita, banyak teman-teman kelas disana, iya kabanyakan perempuan dan laki-laki hanya beberapa di lingkaran itu. setelah asyik membahas tentang pelajaran Mr killer tadi, dan tiba-tiba dari belakang teman-teman beserta Romi menyiramku dengan air yaks, itu air apaa!! menjijikan sungguh baunya. tenang, semua tidak berhenti di air yang entah asalnya dari mana. karna tempat tongkrongan kita tidak terlalu tengah malah lebih ke sudut taman jadi tidak banyak orang yang mendengar dan melihat kejadian memalukan itu. setelah badanku diguyur basah kuyup oleh air aneh, teman-temanku beserta Romi mengikat tanganku di salah satu batang pohon dan mereka semua puas melempari tepung, telur, bahkan tanah beserta yang lain. Sungguh. satu hal yang ada di benakku, "Ini anniversary kan? bukan ulang tahun!" yang ada di bayanganku Anniversary di bulan yang keempat akan menjadi salah satu momen terromnatis yang pernah aku rasakan, tapiiiiiii? bulan keempat kita jadian malah menjadi momen ter ter ter-aneh yang pernah aku rasakan.
"Apaan seeh? ini anniversary kan! bukan ulangtahun. apa-apaan sh kamu Rom?" teriakku kewalahan.
"sayang aku gak mau mindstream, aku mau ngerayain kayak gini. kan sama-sama merayakan yaaank. aah kaamu cantik cantik dari hatimuu~" Romi menggodaku jahil.
"yaank ini baju aku gimanaa? aku gak mungkin pulang kerumah dengan keadaan kayak gini, kak Lisa pasti marah! kamu harus tanggung jawab, abis bercandanya kelewatan sihh!" rengekku tak terima.
teman-teman yang lain menertawakan tingkahku dan selalu menggoda setiap kata yang aku keluarkan.
"Udah, lo bersih-bersih aja dulu di kosan Romi Kal. nanti lo boleh pinjem baju gue sementara. kan kosan gue sama Romi deket-deketan. tapi gue pulangnya rada sorean dikit. gpp kan?" Sarah memberikan saran.
"iyaa sayangku Kalista, kamu bersih-berrsih aja di kosan aku yah? maaf ya sayang." Romi membantu menenangkan dan menyakinkanku.
Aku tak menjawab hanya mendnegus kesal dan badanku di tarik Romi menuju motornya.
 ***
Dingin. Tertidur tanpa pakaian sungguhlah menyiksa. Aku mengedipkan mataku. Mencoba menguasai diri di tempat yang gelap. Sepertinya di luar sudah hampir subuh. Berarti aku pulas tertidur lebih dari tiga jam.  Pegal-pegal badanku. Terlebih kasur Romi di kosan tidak senyaman kasur dikamarku. Dan Romi, tangannya sibuk meraba-raba tubuhku meski ia sedang tertidur pulas di sebelahku. Aduh! Apa kata kak lisa nanti kalau ia tahu apa yang telah terjadi padaku. Aku dan Romi dalam keadaan sadar melakukannya. Sebagai tanda cinta, sebagai hadiah empat bulanan kami jadian. Tenang Kalista, tidak akan ada hal buruk yang terjadi. Batinku.
Segera kukuasai pkiranku dengan segala hal yang menenangkan, oke lebih tepatnya mencoba untuk menenangkan. semua berputar-putar "Ini baru satu kali kan?" "Tenang tenang Romi pasti akan bertanggung jawab!" "Aku cinta dia, pun juga dia. jadi tidak apalah". Ku lihat wajah Romi, lelaki yang sangat kucintai. Ku belai wajahnya dan matanya pun terbuka dan langsung berucap "Sayang, semua akan baik-baik saja, tenanglah" aku hanya tersenyum. Iya aku percaya padanya.

Ku pinjam kamar mandi di kostan Romi, aku mandi dan tidak perna berhenti-hentinya aku tetap memikirkan apa yang akan terjadi jika hal yang paling buruk menimpaku. Bagaimana dengan kak Lisa? Aku inget betul tadi malam aku mengirimkan pesan singkat ke kak Lisa yang berisikan malam ini aku akan menginap di kostan Sarah, ada tugas yang aku kerjakan. Iya, nyatanya memang ada yang ak kerjakan tadi malam, tapi bukan tugas dan bukan di kostan Sarah.
Dari luar kamar kudengar handphoneku berbunyi. Aku segera keluar kamar mandi. Kak lisa.
"Dimana?" Suara di sebrang sana memanggil.
"Kosan Sarah Kak. Belum bisa pulang. Pagi ini mau kuliah lagi." Kilahku cepat. Dalam situasi seperti ini aku harus bisa berbohong.
"Ini hari minggu, centil. Buruan deh pulang. Aku takut kamu kenapa-kenapa"
"Lebaaay! Iya ini aku pulang."
Klik. Kumatikan ponselku. Segera bergegas.
"Kal, kalau kamu hamil aborsi aja ya. Hati-hati di jalan, oya selamat pagi sayang." Setengah sadar Romi menyapaku.
"Tapi kamu mau tanggung jawab kan? Aku kalau hamil tidak akan menggugurkannya. Ini kan buah cinta kita." Aku segera keluar kamarnya. Pulang. 
Selama perjalanan rumah pikiranku masih dikuasai oleh ketakutan-ketakutan yang besar akan sesuatu hal yang paling buruk mungkin akan terjadi, tapi lagi-lagi aku berusaha untuk menguasai diriku  dengan positif thingking.
Sesampainya dirumah aku langsung masuk kedalam kamar, aku tidak menghiraukan pertanyaan kak Lisa tentang beberapa hal. Ini hari minggu dan besok aku harus datang ke kampus lagi dan hidupku akan dimulai dari awal, tetap menjadi diriku sendiri dan tidak membiarkan fikiranku dengan hal-hal buruk.
***
Senin datang, hubunganku dengan Romi masih baik-baik saja, kak Lisa tetap dengan cerewet yang sama. "Iya, semua akan baik-baik saja" ucapku pada diri sendiri.
Waktu terasa begitu cepat, hari-hari bagai menyingsing ramping setiap minggunya. Tanpa terasa 1 bulan sudah kulewati, hubungan ku dengan Romi semakin berjalan baik sekali, dia semakin mencintaiku pun juga dnegan aku, teman-teman mewarnai semua kehidupan kampusku dengan sempurna dan aku menjadi sering mampir kekostan Romi untuk sekedar melepaskan "kerinduan" kita berdua. Iya, Romi memang lelaki yang sangat pintar meyakinkan, jadi dengan tanpa ragu aku memberikan semua yang dia minta.

"Kal, kapan mau belanja bulanan nih? nanti sore aja yuk? udah banyak keperluan rumah yang menipis persediaannya. kamu catet dulu tapi yah kebutuhan yang harus ditambah" Kak Lisa memecah kesunyian siang itu dikamarku.
"Sippoo!"
Aku membuka lemari kosmetikku dan lemari pakaian ku. mencatat semua kebutuhan yang menipis dari bedak, syampoo, pelembab, pembalut. mataku berhenti pada pojokan lemari baju tempatku menaruh pembalut, sebentar aku selalu rutin memasok pembalutuntuk 1 bulan dan pasti habis tapi kenapa masih ada 1 bungkus yang tak terkoyah sedikitpun pembukusnya? dan aku baru teringat, aku belum datang bulan bulan ini. Bagai petir disiang bolong, ketakutanku meraja dan terus membesar setiap detiknya.
Mungkinkah, aku, hamil?
"Woy kal, cepet kesini. Mana list belanjaannya!" Kak lisa memanggil. Aku segera memasukan testpack dalam list ingatanku. Berharap apa yang terjadi tak seperti yang kubyangkan. Kami berangkat.
Jantungku berdegup kencang saat aku dan kak lisa memasuki pusat perbelanjaan.
"Kak aku pisah ya mau cari keperluan lain" ucapku bpada kak lisa. Ia hanya menangguk. Aku bergegas menuju satu barang. Menelusuri rak demi rak demi mencari barang yang kutuju. Ah itu dia! Segera aku menuju kesana.
Bruk!
Tubuhku menabrak seseorang. Romi. Dengan wanita lain. Berpegangan tangan. Dia hanya menatapku seolah tak pernah kenal denganku.
Aku yang masih sibuk mengusir pikiran tentang kemungkinan aku hamil langsung teralihkan pada saat melihat Romi jalan bergandengan mesra dengan perempuan lain. oke, aku mencoba untuk mengontrol diriku sendiri dan menghampiri Romi yang berusaha mempercepat langkahnya untuk menghindar dariku. "Romii!" aku teriak, Romi menoleh. "Hey, Rom. apa kabar lo? eh iya gue dapet titipan pesen dari pacar lo, katanya Dia minta putus! oke, gue duluan yah Rom" Jelas ku. Romi dengan wajah yang sangat kebingungan dan ketakutan bercampur jadi satu ketika menghdapiku. Perempuan yang sedang bersamanya memaksa penjelasan dari kalimatku sambil memukul dada Romi berkali-kali. Dan aku, pergi. Dengan rasa sakit yang berguguran setiap langkah.
Romi, lelaki yang dulu sangat ku puja sekarang sempurna membuatku bermuram durja.

Aku tidak menceritakan kejadian tadi kepada kak Lisa karna menurutku bukan hal yang penting untuk diceritakan. Kondisi fisik dan batinku benar-benar terguncang hari itu. Dengan diam-diam aku memasukkan alat tespeck kedalam keranjangku dan aku menghitung sendiri di kasir yang berbeda dengan belanjaan rumah.

Aku pulang dan langsung membersekan barang-barang yang kami beli hari itu. Setelah selesai aku memutuskan untuk masuk dan mengurung diri di kamar. Pikiran-pikiran depresif benar-benar menguasai malam itu, sempat ada fikiran untuk membuat Romi merasakan apa yang aku rasakan, sumpah serapah berserakan malam itu, dan penyesalan terhadap semua yang sudah aku lakukan menjadi sangat dominan.
Aku lelah, dan aku pun tertidur.
 ***

"Gugurin dek. Aku nggak mau menanggung malu" Kak lisa menatapku tajam. Sarah yang berdiri disebelah kak lisa juga menyahut tak kalah sengit.
"Iya sayang, di gugurkan aja. Gak akan sakit kok. Di kuret cuma sebentar."
Sore ini hujan deras. Petir terus menyambar. Aku menanhis, bersamaan dengan riuhnya suara hujan yang turun. Aku masih terus saja menangis. Dugaanku bahwa aku hamil benar. Tadi pagi aku mengeceknya dan aku benar benar positif hamil. Bagaimana mungkin! Aku tahu semuanya. Semua kesakitan itu. Lalu tiba-tiba Kak lisa dan Sarah menyeretku dengan paksa, pergi mengunjugi Ibu Desy, penjual jamu menggugurkan kandungan yang paling terkenal . Aku terus meronta-ronta, tak mau aku menggurkannya. Aku mau jadi seorang ibu. Tapi tiba-tiba Romi memukul kepalaku. Pingsan.
Aku menangis terus. Tanpa henti. Seperti hujan yang terus tercurah saat musim hujan berlangsung. Menangisi perbuatanku. Menangis melakukan pembunuhan keji itu. Aku baru sadar. Aku ingin bayi itu hidup. Aku ingin melihat matanya menatap mataku. Aku ingin menyentuh lembut kulitnya. Aku ingin dibangunkan oleh suara isak tangisnya. Aku ingin sekali disibukkan dengan menyusuinya. Aku benar-benar menyesal. Aku ingin menggendongnya, menciumnya, merasakan hangatnya sentuhan mungil dia. Meski aku tahu Romi tidak akan betanggungjawab. Meski aku tahu semua tak akan pernah kembali. Tak akan mungkin sesuai dengan harapan.
Kami semua sudah dirumah. Membiarkanku beristirahat di kamar. Aku segera berpikir cepat. Memasuki kamar mandi dan menenggelamkan tubuhku pada bak mandi. Segar. Dingin. Menjernihlan pikiranku. Aku Memejamkan mataku. Menyatukan air mataku dengan air bak mandi. Aku inhin mengakhiri hidup ini. Romi memang bukan lelaki yang baik. Laki-laki baik ialah yang sanggip menjaga kehormatan wanita, bukan yang seperti romi.  seolah tak merasakan sakit yang kuderita aku terus membenamkan diriku.
Sarah dan kak Lisa berhasil menggugurkan janin yang ku kandung dalam rahimku, rasa sakit yang kurasakan tidak sebesar rasa bersalahku yang besar karna telah membuang bayi suci dan tak berdosa. Dalam kamarmani kukutuk diriku sendiri sampai kutukanku memenuhi seluruh ruangan, menguap menghilang bagai buih dalam lautan, melebur menjadi satu dengan doa doa para pendosa yang ada di seluruh dunia. Aku kotor, aku jahat, aku tidak pantas mendapatkan kehidupan. Kalaulah janin ini harus hilang maka akupun juga harus melenyap di atas muka bumi ini. Dunia terlalu rapuh bila harus menanggung dosaku yang sangat besar ini.
Aku mencari sesuatu yang dapat membunuh diriku sendiri, kulihat kawat yang menganga di sudut kamar mandi. Aku bergegas mengambilnya. Saat itu pula kak lisa dan Sarah masuk. Melihatku berusaha meraih kawat tajam itu.

"Kal, bodoh! Jangan lakukan itu!" Sarah menarikku. Aku terus memberontak. Ka Lisa panik. Ia berteriak histeris. Ada perlawanan yang terjadi antar aku dan Sarah. Kering sudah tangisanku. Kami terus saja saling dorong, dan saat itu pula aku hilang keseimbangan. Licinnya lantai kamar mandi membuatku terpelanting jatuh, dan kepalaku menghantam lantai dengan sangat keras. Lalu semua terasa samar, gelap .
Inikah akhir hidupku? Bertemu dengan malaikat kecilku yang baru saja pergi.
Fin~
 
Read more...
separador

Project Writing #AWeekofCollaboration

Lalalalala Dududududu~
Gak tau kenapa seneng aja rasanya pas mau buat postingan ini, semangatnya full full-an banget, on fire seketika, haha. Oke sekarang mau banget share pengalaman dan share pendapat tentang salah satu project yang beberapa hari ini gue ikutin. Yap yap, nama project itu adalah #AWeekofCollaboration. Iya project itu berlangsung di Twitter, pertama kali gue tau project itu dari salah satu temen SMP gue , dia emang salah satu temen twitter yang paling sering ikutan project writing gitu lewat twitter. Awalnya gue baca dulu cara ngikutin project yang ini kayak gimana di website mereka, pertama kali rada takut buat ikutan karna yaaa you know lah? Banyak banget penulis-penulis yang lebih jago daripada gue bertebaran di luar sana, minder ceritanya mah, hehe.

Setelah gue mikir-mikir lagi akhirnya gue ambil keputusan untuk ikutan, itung-itung nambah temen baru dan nambah pengalaman baru kan?. Gue mulai nulis di hari rabu gak dari hari senin karna telat tau informasinya. partner pertama gue itu namanya , bener-bener belum kenal sebelumnya sama makhluk yang satu ini tapi tetep tancep gas aja untuk melahirkan karya kolaborasi milik bersama, hehe. Hari rabu tema yang angkat adalah "Gelap" dan sesuai dengan tema, gue sama bang putra mulai nulis kolaborasi di malam hari yang gelap juga. Kita lempar-lemparan tulisan lewat message di FB, udah dapet beberapa alenia akhirnya terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Iya si abang yang satu itu tetiba ada kerjaan yang gak bisa ditinggalin dan akhirnya dia ngizinin gue untuk cari partner baru, gubrak gak tooooh! aah emang benar-bener deh si abang. Gak lama gue coba muter otak, mau gak mau ini karya harus selesai, sayang banget kalo gak di selesaiin. Akhirnya gue liat yang masih OL di FB siapa daaaan di temukanlah seseorang dengan nama yang sama tapi orangnya beda, partner ke dua gue dia adek angkatan gue di kampus. setelah gue bantu dia untuk pahamin cara main ini proyek, akhirnya dia mau lanjutin karya kolaborasi hari pertama gue. Dan kalo boleh jujuuuuur, dia adalah penulis yang punya bakat untuk obrak-abrik alur cerita. Adoooh malem-malem di ajak berpusing-pusing ria sama tuh anak. Kalo mau tau karya pertama gue sama 2 orang yang berbeda tapi punya 1 nama yang sama kalian boleh liat tulisan ini ~> judulnya "Gelap Dalam Gelap" pokoknya kalo ada alur yang aneh-aneh setidaknya kalian bisa tau itu perbuatan siapa --,-- tapi jujur ini kolaborasi 3 orang yang gak biasa. hasilnya KEREEEN~

Jeng jeeeng~ hari Kamis hari ke 4 untuk semua yang mulai dari awal dan hari ke 2 untuk gue.
Hahaha ini lebih seru coooy.. Sangking serunya banyak kejutan yang gue dapetin di hari itu. haha. Di hari ke 2 kita semua dapet tema "Hangat" dan gue dapet partner sama yang kelihatannya salah satu anak fakultas kedokteran di salah satu perguruan tinggi negri di Malang. Adies penulis yang suka ngasih kejutan, hehe kita bales-balesan tulisan lewat email dan jujur ini adalah tulisan yang punya inti cerita yang sanget menarik dan gak mindstream. Aeneng bisa ada kesempatan untuk kolaborasi sama calon dokter hebat kayak dia. Ini adalah hasil karya gue sama adies ~> judulnya "Akulah Sebab dan Akibat"

Hari Jum'at pun datang dan entahlah kayak ada yang mau nebus kesalahan gitu deeeh. haha di hari ke 3 gue kolaborasi sma bang putra lagi dan tema yang kita dapet adalah "Hening". Sebenernya dari awal gue ikut proyek ini gue mau banget kolaborasi bikin sajak sama orang, tapi yang gue liat dari awal kebanyakan pada bikin cerpen atau flash fiction gitu. Daaan ternyata si bang putra juga punya pasion yang sama kayak gue. Dia juga lebih prefer ke arah puisi/sajak ketimbang cerpen cerpen gitu haha punya temen 1 spesies yang sama! haha. akhirnya kita mutusin untuk bikin kolaborasi sajak deeeh.. Haha ini baru seru! Dalam satu hari yang sama kita berhasil melahirkan 2 kolaborasi sajak yang punya tema satu tapi dilihat dari 2 sudut pandang yang berbeda, mantaf! ini hasil kolaborasi kita ~> "Mencinta Tanpa Suara" dan "Aku Rindu Kamu, Hening" hahaha 2 karya yang anggun kalo boleh narsis. :P

Hari sabtu tema yang kita dapetin adalah "Penantian" adududududuuuh~ bener-bener deh tema yang diangkat sama proyek #AWeekofCollaboration pada gilak gilaaak! hehe, keren sungguh keren. Untuk hari sabtu gue gak dapet pertner kerna hari sabtu lagi ada yang harus dilakuin jadi bukan karna temanya yang membunuh banget yah, tapi emang lagi ada keperluan lain. haha. Mungkin kalo kemarin dapet partner dan ngehasilin tulisan bakal kayak ngoyak-ngoyak luka sendiri kali ya? wkwk

Naaah untuk hari minggu ini, hari terakhir proyek #AWeekofCollaboration bakal ditutup kita semua dapet tema "Akhir" fyuuuh emang setiap aal pasti ada akhir yah? Sunnatullah. hari ini gue kolaborasi sama temen sahabat jaman SMP sampe sekarang punyanya gue.. hehe, let's make a shake baby! we're hot. hehe :P

Komentar gue tentang project writing #AWeekofCollaboration kali ini seruuu banget, kereeen banget konsepnya, perencanaannya matang dan gak main-main. Mereka peduli sama bakat bakat yang dimilikin sama semua orang terutama menlis, proyek #AWeekofCollaboration tuh udah jadi salah satu wadah penulis amatir yang sangat haus akan kesempatan untuk menunjukkan eksistensinya. So you're have a Great JOB! Mungkin tanpa kita para penulis amatir yang gabung di proyek sadari dengan proyek ini udah ngebantu kita untuk profesional sama apa yang lagi kita kerjakan dan bener bener ngajarin kita untuk menahan ego kita masing masing. Sehari hari kita nulis sendiri, alur mau di alirin ke mana aja ya semau kita sendiri, karakter atau nama subjek semau kita sendiri, tapi kalo kerjain tulisan berdua kan ya gak mungkin bisa egois. hehe. pokoke manteeep!

Thanks banget untuk panitia yang udah buat acara semenarik ini, semoga akan menjamur project writing untuk penulis amatir kedepannya. dan thanks banget juga buat semua partner yang udah mau berbagi sama gue. haha, kalian semua luar biasaa... Love it!




Read more...
separador

Jumat, 01 Maret 2013

Aku Rindu Kamu, Hening

Senyap, aku benar-benar merindukanmu
Kesunyian yang kau cengkramkan pada hatiku
benar-benar menenangkanku
Keheningan yang kau nyanyikan pada jiwaku
benar-benar terdengar merdu

Pada samar suara jangkrik
Pada detik-detik yang berisik
Aku tak merasa terusik
Ada damai yang kupetik

Ribuan menitku terisi sesak oleh kegaduhan
Setiap pagi selalu kutemui deru kendaraan penuh di jalan
Para tetangga bergosip riuh tak tertahankan
Bahkan pertengkaran cicak yang tak bisa kupisahkan

Mendengar sahutan dengkuran tak pernah membuat tidurku lelap
Gombalan para remaja terdengar bagai buih yang menguap
Janji janji pemimpin yang diobral terlihat seperti tayangan para pesulap
Kericuhan macam itulah yang selalu kutemui dalam hari-hariku yang pengap

Aku seakan mengerti melodi alam
Yang dilantunkan sunyi kala malam
Rasanya semua bising terbungkam
Dalam dekapan cahaya temaram
Aku ingin hening yang kejam
Tikam malam hingga padam

Di horizon timur, mentari hadir lagi
Membawa bising ke permukaan pagi
Kemana sunyi?
Kemana sepi?
Aku tak mau semua gaduh ini
Aku tak mau hirup udara pagi
Aku mau sunyi!
Aku mau sepi!

Andai saja aku dapat membungkam semua mulut para pembual
Maka tidak akan pernah lagi kusapa pagi dengan rasa sesal
Pasti akan kupasang muka ini dengan topeng lain selain topeng baal
Tapi ternyata di negeri para bedebah ini masih saja kutemui kericuhan massal

Semua aneh
Bahkan kadang cuaca pun berubah jadi nyeleneh
Para pemberontak bisa terbungkam hanya dengan dilempar kepingan uang receh
Maka tak heran banyak benih yang mulai tumbuh makin hari malah makin membleh

Hei, senyap, di mana kamu?
Aku sungguh rindu hadirmu
Kulempar tanya ke segala penjuru
Tak ada jawaban yang kumau

Semua bising ini terlalu egois
Seperti hujan yang menghardik gerimis
Semua seperti dihasut iblis
Semua tenang dilahap habis
Semua damai dibunuh dengan sadis
Ironis!

Setiap malam yang semakin larut kupaksakan mataku untuk terpejam
Mungkin saja dapat kutemui hening sebagai alat untuk meredam
Meredam kegaduhan dan keanarkisan suasana yang membuat hari temaram
Kesunyian nyayian jangkrik atau obrolan santai cicak pasti bias membuat hatiku tentram

Adalah aku yang sangat merindukan hening
Adalah aku yang sangat membenci semua hal bising
Adalah aku yang sangat mendambakan air yang berdenting
dan adalah aku yang sangat menghindari semua hal yang tidak penting

Aku rindu kamu, hening…
   
Read more...
separador

Mencinta Tanpa Suara



Rasa ini menggigil dalam fajar yang kulewatkan tanpa menikmati hangat pagi
Rasa ini gemetar kala senja pergi tanpa pernah kugenggam jingganya
Wangi fajar dan harum senja tak pernah bisa kukenali lagi
Melesat saja tanpa sempat kusadari hadirnya

Waktu sangat terasa begitu cepat berlalu, hingga angin yang menerpa wajahku tak sempat lagi ku cium baunya
Ku lihat telapak tanganku sejenak dan yang ku dapati hanya sela jari kosong tak berpenghuni
Melihat sekitar mencari sesuatu yang dapat ku genggam, tapi seolah semua peganggan menjadi melemah seketika
Benda mati benar-benar terlihat mati sekarang, mareka mati tapi tetap berusaha keras untuk bersembunyi

Aku melihatmu sebagai masa depanku
Tapi aku tak pernah punya nyali
Sekadar untuk menyapamu
Sekadar untuk menatapmu
Sekadar untuk ucapkan aku cinta
Hingga fajar tersapu hening pagi
Hingga senja terserap purnama meninggi

Setiap pagi kala wangi mekar bunga mengitari, aku selalu menemukanmu sedang menunggu di sudut pemberhentian hati
Dengan cara yang tidak kau ketahui aku sangat akrab dengan harum tubuhmu,
Dengan suara yang tidak kau deteksi aku selalu mengeja setiap susunan huruf namamu,
Dari malam yang hening dan dari siang yang kering ku ukir parasmu bernafaskan sunyi.

Tiada yang lebih kuingin selain mencintaimu
Tiada yang lebih kudamba selain merinduimu
Namun rasa sepenuh jiwaku, seperti mendung yang tak kunjung hujan
Kemudian angin meniupkannya hingga semua kata tak lagi bermakna
Aku terlalu nikmati mencintamu dalam sunyi

Tidak ada kata yang dapat terucap kala mata kita saling bersitatap.
Semua kalimat indah yang tersusun rapi tadi malam seketika membubarkan barisan kala kita jalan berpapasan.
Ku kutuk diriku sendiri karna tak dapat lagi menaklukkan situasi.
Terlalu banyak waktu yang mempertemukan raga kita, dan terlalu banyak juga waktu yang ku siasiakan untuk mempertemukan hati kita.
Cinta yang kubangun sendiri dengan usaha yang ku kerahkan sendiri dan dengan pupuk yang kutebar sendiri membuatku semakin mengutuk kata-kata"Cinta itu harus memiliki".

Akhirnya tiada lagi yang bisa kunikmati
Hatimu kini telah termiliki
Dan cinta yang kusimpan selama ini
Tak lagi berarti
Aku mendekap sepi.

Read more...
separador

Kamis, 28 Februari 2013

Akulah sebab dan akibat

Terbaring lemah aku di atas kasur tua dalam kamar ukuran 3x3 m kepunyaanku, mungkin bagi sebagian teman-temanku ini tak layak disebut kamar tapi lebih tepatnya ini adalah gudang. Iya kadang aku pun berfikir seperti itu, kala mata ku menangkap semua barang yang tak beraturan dalam ruang ini. Terselamatkanlah ini disebut kamar hanya oleh sebab ada kasur tua yang menipis tiap tahunnya "menghiasi" sudut ruangan ini.
Disini sunyi, sangaat sunyi yang terdengar dalam jangkauan telingaku hanya suara detik yang dikeluarkan oleh jam dinding. Malam yang kian melahap sinar, menandakan hampir tengah malam dan aku masih terjaga.

Terjaga untuk menanti kepergian orang yang selama ini menjadi pemasung kehidupanku, Ayah. Dalam domain waktu yang kebanyakan orang menjadi waktu untuk beristirahat tapi menjadi waktu mulai bekerja ayahku. Masih terpejam mata ini, dan dia mulai membuka pintu "reot" kamarku. "Nak, aku berangkat yaa..". sebelum langkah dia mendekat kearah pintu ku, bau menyengat parfum menyergap hidungku.

Ayahku cukup tampan, bahkan di usianya yang mendekati setengah abad. Posturnya cukup tinggi dengan perawakan yang tegap meski tak kekar. Dengan senyum yang selalu terpatri di bibirnya, dia selalu nampak lebih muda sepuluh tahun dari usia sebenarnya.

Pria itu mengecup dahiku lembut. Rambut brunet bergelombangnya memburai di wajahku. Bibir bergincu merah terangnya berjinjit. Dua kelopaknya berpesta, dengan saputan hijau dan merah kecoklatan, dibatasi garis hitam tebal dan bulu mata nan lentik. Pipinya merona. Jemarinya membenahi kembennya.

"Ayah, sebentar," panggilku. Lantas beranjak dari ranjang susah payah, menyisir riap rambut yang jatuh di dahinya. "Wig ayah masih berantakan."

Pria itu hanya mengulum senyum kala aku selesai membenahi penampilannya. "Ayah sudah cantik kan?"

Aku mengangguk.

"Sudah ya, ayah pergi dulu. Doakan hari ini ayah dapet customer, nak," pamitnya, membelai rambutku.

Aku tidak menjawabnya. Beliau pun tidak ingin tahu jawabanku. Pria itu berlalu, dan yang terdengar kemudian adalah decit pintu dan suara kunci yang diputar. Aku sendiri.

Ya, ayahku adalah seorang transgender.
Suyinya malam menggemakan suara langkah heels ayah yang beradu dengan aspal dingin. Aku melemaskan persendian kaki ku dan menjadikan tembok lusuh rumahku menjadi sandarannya, pada saatsaat seperti ini yang selalu bergeming dalam benakku adalah kata-kata "Andai mama masih ada". 1 susunan kalimat itu sempurna memacu gambar khayalan tantang apa yang akan terjadi bila sosok mama tidak lenyap pada timbunan tanah sore itu.

Usiaku tidak remaja lagi, usiaku menginjak 20 tahun dan tepat besok aku harus menanggalkan usia 20 tahun demi tercetaknya usia baru yang bertambah besar jumlahnya namun berkurang porsi "jatah" hidupnya. Entah sudah berapa kali ulangtahun yang kulewatkan sendiri tanpa ada sosok ayah sekaligus mama disekitaranku. Mungkin dia lupa, atau mungkin ingatan akan ulang tahunku tertimbun dalam tebalnya bedak yang setiap malam dia paparkan.

  
Berharap pada ingatan ayah akan ulang tahun? Mungkin terlalu berlebihan. Karena yang tersisa dari hariku adalah pagi dengan dengkuran ayah. Kadang kala disertai dengan kekasihnya, Ari. Tak jarang aku memergoki dua pria itu bercumbu di sofa, melenguh, berbisik cinta, lantas berteriak. Pemandangan itu, sungguh menyulut hasratku untuk membakar dua mataku.

Mungkin tahun ini akan sama. Ah, tidak. Barang pasti tahun ini tidak akan berbeda.
Mata air yang menggenang, kuseka kasar. Tidak ada yang harus ditangisi.
Berusaha keras untuk menerima semua kenyataan dan mengibas semua angan yang di awali dengan kata "andai saja", setidaknya aku menjadi tahu alasan kenapa Tuhan melarang umatnya untuk berandai-andai. karna berandai-andai adalah sebuah hal yang membuangbuang waktu dan membuat harapan meninggi tanpa ingat dasar.
ku jatuhkan badanku dikasur dan seketika aku terlelap.

Pagi, selamat ulang tahun... aku.

Aku tersenyum miris pada kalender usang di kamarku. Ya, pagi tetaplah sama, dengan cerah yang sama. Pun dengan muram yang serupa. Durja. Kutarik nafas panjang dan menyingkirkan harapan.

Kuseret kakiku malas untuk keluar. Namun apa yang kulihat setelah membuka pintu adalah suatu yang berbeda. Ayahku berdiri di dapur, mengenakan celemek masak milik ibu. Beliau berbalik ke arahku kala mendengar suara derik pintu.

"Sudah bangun? Apa ayah membangunkanmu, nak?" tanyanya.

Aku terhenyak. Sejak kapan beliau bisa bangun pagi. "A--ah... Sudah, yah. Ayah sedang apa?"

Alih-alih menjawab pertanyaanku, beliau menyuruhku duduk di meja makan. Aku hanya mengerutkan dahi bingunh. Aku menurut saja dan mningglkannya sendiri di dapur.

Tak beberapa lama, beliau menghampiriku. Di tangannya, ia membawa hati-hati kue tart putih sederhana. "Fian, selamat ulang tahun!"

Aku terperangah.

Ayah.

Mengingatku.

Dahi ayahku berkernyit, "Fian? Kok diem? Ditiup dong lilinnya. Kan ayah susah-susah bikinnya..."

"Ayah... bikin sendiri?" tanyaku. Menatapnya tak percaya.

"Iya dong! Walau dibantu Bu Marni tetangga sebelah, sih... Tapi ini semua dari tangan ayah kok!" jawabnya, menekankan bahwa kue itu memang hasil karyanya.

Karya pertamanya.

"Sekarang, berdoa dulu dan tiup lilinnya. Ayo ayo!" rajuknya setengah memaksa.

Aku tersenyum simpul. Kelopakku menutup, aku mengucap permohonan. Lantas bibirku mengerucut, meniup tiap lilinnya. Dua puluh lilin kecil yang menjulang di permukaan kuenya.

Ayahku bertepuk tangan, kelewat heboh sejujurnya. Aku hanya tersenyum haru dan memeluknya, erat. Sangat erat. "Makasih ya, yah..."

Beliau tidak menjawab. Hanya mengusap punggyngku lembut. Hangat.

"Nak, apa permohonanmu barusan?" tanya ayahku kala aku melepaskan rengkuhanku.

Aku menggigit bibir bawahku. Aku tak tahu apa aku boleh mengatakannya. Lebih tepatnya apa aku bisa mengucapkannya pada ayahku? Rasa-rasanya tidak.

"Ayolah, Fian... Ayah kan juga ingin tahu..."

"Ayah tidak akan marah kan kalau Fian beri tahu?" tanyaku takut. Tanpa kusadari, jantungku telah memompa keras. Dentumannya yang kuat menggebrak dada.

"Kenapa harus marah? Kamu ini ada-ada saja." ayahku tergelak.

"Aku ingin..." ucapanku terhenti. Ayah melihatku penasaran, hingga aku melanjutkan, "...ayah berhenti jadi pekerja malam..."

Kali ini ayahku terhenyak.

"Maksudku, ayah bisa kerja yang lain. Aku juga bisa membantu ayah, meski aku tak cukup kuat. Atau..."

Senyap, aku merasa bersalah mengatakannya. Meski aku tak merasa salah untuk memikirkannya. Namun, mungkin ayahku lebih nyaman dengan pekerjaannya kini.

"Maaf, yah..." Aku tertunduk. Harusnya aku tidak menyatakannya. Harusnya kulesakkan saja pemikiran itu. Harusnya aku--

"Baiklah. Ayah akan berhenti."

Aku menengadah. Mata kami bersirobok. Kulihat sepasang rubi di matanya, menatapku lembut. Aku... tak tahu harus berkata apa. Kutarik beliau dalam rengkuhku sekali lagi.

"Terima kasih, yah..." balasku, sangat lirih. Nyaris berdesis.

Rengkuhan ayahku pagi ini sangat hangat. Menyenangkan, menenteramkan hati, pun membuncahkan adrenalin. Hari istimewa ini, tidak ada yang bisa lebih istimewa. Untuk pertama kalinya sejak mama meninggalkan kami.
Mungkin akulah sebab dan akibat bagi kehidupan ayah, aku yang selama ini menjadi penyebab ayah memilih pekerjaan itu dan perubahan ayah yang menjadi akibat dari permintaanku.
aku ingin berharap...
Semoga esok menjadi hari yang jauh lebih baik bagi kami.

-fin-
 "Pada dasarnya setiap orang tua pasti memberikan sema yang terbaik untuk anaknya bahkan untuk merelakan dirinya sendiri. Karna Teramat banyak bahasa orang tua yang tidak dipahami oleh anak sebelum anak itu merasakan dirinya menjadi orang tua". 

Read more...
separador

Gelap dalam gelap

“Every one is a moon, and has a dark side which he never shows to anybody” - Mark Twain

Aku sedang duduk di sebuah restoran bersama beberapa teman-temanku sepulang dari kampus. Restoran ini berada di pinggir jalan raya, sehingga setiap orang yang lewat bisa kulihat dari dalam melalui dinding-dinding kaca yang bening dengan beberapa ornamen pemanisnya berupa lingkaran-lingkaran kecil berwarna-warni, sebagian besar berwarna jingga serasi dengan dinding di bagian dalamnya, juga seragam para pelayan restoran yang berwarna jingga dengan garis hijau besar di bagian samping seragam mereka. Aku perhatikan semua teman-temanku sedang berbincang sambil tertawa-tawa, kadang tawa mereka terlalu kencang sehingga membuat pengunjung lain menoleh kepada kami. Tapi aku tidak mengerti apa yang sedang mereka bicarakan hingga tertawa terbahak-bahak seperti itu, pikiranku sedang tidak di sini, pikiranku mengelana jauh mengingat episode buram beberapa bulan lalu yang masih terekam jelas di ingatanku.

Episode yang mungkin bagi kebanyakan orang dianggap episode yang sangat menyenangkan, iya aku sempat sepakat dengan mereka, tapi kata sepakatku seketika memudar kala ku ingat sakit yang mungkin akan aku rasakan. Episode buram yang nyatanya tidak buram, tapi aku yang berusaha keras memburamkan episode itu. bagaimana tidak? Dengan kesadaran yang tidak seutuhnya aku menjatuhkan pilihan pada orang yang telah dipilih orang lain, aku menetapkan hati pada orang yang telah ditetapkan hatinya oleh orang lain. Rasa itu bagai dua mata pisau yang tajam untukku, hujaman caci pada diri sendiri tak jarang aku dapatkan, hantaman keras pada nurani kini tak jarang lagi aku rasakan. Sergapan banyangmu melesat cepat bahkan pada situasi malam seramai ini, tidak bisa dibayangkan bagaimana kabar malam-malamku yang diselimuti sepi, mungkin bayanganmu memenjarakan tubuh dan alam imajiku.

Aku tahu sepenuhnya bahwa rasa yang kupertahankan ini benar-benar salah di mata semua orang, terlebih bagi mereka yang selalu mengagungkan logika. Tapi sejak kapan hati dan logika sejalan? Aku terlalu takut memasang telinga mendengarkan setiap kata yang akan terucap yang mungkin tak lebih dari cacian yang bahkan akan semakin membuatku tak berdaya. Itu sebabnya aku hanya mampu menyimpan semua perasaan yang tak seharusnya kusimpan ini di sisi gelap hatiku. Tak seorangpun tahu. Tidak juga mereka yang sedang tertawa di depanku ini.

Biarlah semua orang melihat sisi paling terang dalam diriku tanpa harus mereka tahu sisi tergelap yang aku punya. renyahnya tertawa mereka malam ini pun ku balas dengan tawa, ah sebentar terlalu sadis jika ini disebut tawa karna nyatanya aku tertawa bukan karna guyonan mereka, tapi lebih tepatnya aku yang sedang menertawakan kebodohan diriku sendiri. Mencintai orang yang sudah ada yang memiliki bukannya itu namanya bunuh diri? Biarlah mereka menganggap tawaku adalah sebagai gayung bersambut atas guyonan mereka tanpa harus mereka tahu atas dasar apa aku tertawa. Kalaulah memang sisi tergelapku hanya bisa diketahui oleh sudut ruang gelap Dalam kamarku, biar. Mungkin itulah saat dimana aku merasa menjadi diriku seutuhnya tanpa harus memasang topeng jenaka seperti sekarang.

Teman-temanku semuanya sudah menyelesaikan makan sorenya, sedangkan aku yang memang tidak merasa lapar, hanya menyisakan beberapa mililiter es teh manis di gelas tinggi yang bagian tengahnya lebih ramping.
“Ayo Nay, kita pulang,” suara Dina menyadarkan aku dari lamunanku. Ternyata teman-temanku sudah siap untuk meninggalkan restoran ini.
“Tunggu sebentar,” sahutku sambil membereskan tas tanganku. Mereka sudah hendak keluar dari restoran, dan aku bergegas menyusul mereka.
“Hei Nayla!” Aku terperanjat melihat sosok yang selama ini menghantui pikiran dan hatiku itu. Kami tepat bertemu di depan pintu restoran, sedangkan teman-temanku sudah menuju mobil yang di parkir di samping restoran. Perasaanku benar-benar tercampur-aduk antara rasa senang karena melihat senyumnya yang begitu mendamaikan, bingung karena aku tak tahu harus bersikap seperti apa.

Dengan wajah yang entah seaneh apa, ah beruntungnya tidak ada cermin disekitarku karna kalau ada mungkin aku bisa lari karna ketakutan melihat anehnya wajahku sendiri. aku terdiam 1...2...3 detik dalam diamku mata kita bertemu senyuman menawan tak pernah lepas dia pasang dalam parasnya. Seketika bergeming sebuah doa "Tuhan, hentikanlah waktu sejenak. izinkan aku melalap habis senyum yang dilemparkan olehnya". Lamunanku di sadarkan dengan hentakan keras darinya "Hoy! nay, kok diem?", 1 kata yang dapat mewakilkan sikapku pada saat itu, Kikuk. Dengan kikuk aku menjawab "eh Ar, iya, aduh maaf aku kaget kenapa bisa kebetulan ketemu kamu disini. hehe, mau makan ya?". Iya iya, kebetulan. Terlalu banyak kebetulan yang menyatukan kita, kita pernah dengan secara kebetulan memasang gambar wallpaper handphone yang sama, dari ribuan wallpaper yang ada di mana-mana kenapa bisa kita memasang wallpaper yang sama? Kebetulan, iya itu hanya kebetulan.
"Iya nih kebetulan banget, gak mau makan cuma mau minum-minum aja. kamu udah mau pulang Nay?" Jawab dia dengan santai.
"Iya aku udah selesai nih. aaah minum-minum, bilang aja mau janjian ketemu sama pacar, ngaku!" Dengan nada dan gaya yang (sok) santai aku coba menyembunyikan kegugupanku.
"Dasaar kamu, iya nih mau ketamuan disini. tapi kayaknya dia belum dateng deh" Aria menjawab godaanku sambil sibuk menyapu pandangan kedalam restoran.
DEG!
Sejujurnya aku menyesal telah melemparkan kalimat itu. Entah apa yang membuat degup jantungku seperti tak mampu lagi berdetak mengetahui mereka akan bertemu di sini. Aaah, aku begitu bodoh. Rasanya aku ingin mengulang waktu beberapa detik saja sebelum aku mengucapkan kalimat yang malah menjadi boomerang bagiku. Tapi aku tak bisa berbuat apa-apa selain menyunggingkan senyum yang sesungguhnya penuh kepedihan di kedua sudutnya. Aku tersenyum begitu manis, tapi hatiku menangis, seperti teriris.

Harapan ku pada detik itu adalah "sadarkanlah teman-temanku secepat mungkin dan memanggilku agar ada alasan yang anggun untuk menghilang dari jangkauannya". Membayangkan wajah kekasihnya saja hatiku meringis, apa lagi kalau sampai dapat ku tangkap wajahnya dalam indera pengelihatanku. Memasang senyum didepan teman-temanku saja sudah menghabiskan jutaan usaha yang kukerahkan, apa lagi harus melemparkan senyum pada perempuan yang jadi kepunyaannya dia.

Dan tuhan seperti mendengar pintaku. Dapat kurasakan tangan Dina memegang pundakku. Aku tersenyum lega, kutolehkan kepalaku.
"Hai Nayla! Kamu di sini juga ya?" Untuk kedua kalinya aku terperanjat. Bukan Dina yang menyapaku.
Dan tuhan seperti mendengar pintaku. Dapat kurasakan tangan Dina memegang pundakku. Aku tersenyum lega, kutolehkan kepalaku Bukan Dina yang menyapaku.
Ternyata sesosok manusia yang jauh berada didalam kehidupan masa lalu ku,dia mungkin pernah berarti beberapa tahun yang lalu,namun itu dulu...semua terasa indah saat aku belum mengetahui siapa sebenarnya dia,jantungnya terhenti sejenak,mata ku kosong tanpa harap,dan bibir ku bergetar di tengah keramaian manusia berlalu lalang.

Dia yang dulu datang diantara keengganan hatiku untuk berpaling dari cinta baru yang tak mungkin ini. sapaan itu membuat lidah yang sudah kelu menjadi semakin beku, oh Tuhan ampunilah aku dan senyuman palsu yang ku obral hari ini. Dengan sangat terpaksa kutarik 2 cm sudut kanan bibir dan 2 cm sudut kiri bibirku, aku bisa mengontrol senyumku tapi aku tak pernah bisa mengatur air mukaku.
"Dimas? ka kamu ngapain disini?" Nafasku terengah-engah, rasanya oksigen menipis disekitaran ragaku.
Tuhan! pindahkan tubuhku dari situasi ini! - teriak aku dalam hati.
"Dimas?Kamu pasti salah mengenal kami deh,aku ridwan adik kembarnya kak Dimas" seketika aku terperangah bercampur malu,demi memecah keheningan aku mulai berusaha mengakrabkan diri "oh iya...lama tak bertemu,aku lupa mengenali kalian berdua,gimana kabar kakak mu" seketika ridwan pun menunduk seraya berkata "kakak sudah tenang disana,beberapa bulan yang lalu dia telah berpulang karena terserang penyakit jangtung" seperti dihujam seribu belati,bahkan lebih...aku memang berusaha melupakan sesosok pria yang pernah menyakitiku beberapa masa yang lalu,tapi hati ini seakan bergaung saat mendengar kabar yang memilukan telinga ku.

"Dimas? meninggal? secepat ini?" masih dalam ketidakpercayaan yang besar aku berusaha mengontrol laju deru nafas dan detak jantungku.
"Nay, kakakku sudah banyak salah sama kamu, aku atas nama kakak memohon maaf atas semua yang sudah dia lakukan ke kamu, Nay" Ridwan tertunduk.
tanpa aku sangka Aria yang masih berada dalam lingkaran pembicaraan kita, dia menyentuh pundak ku dan membisikkan "Nay, ikhlaskan dan maafkanlah dia". Ku tarik wajahku hingga tegap dan berusaha menenangkan Ridwan yang sesekali terlihat sayu, "Rid, tanpa kamu atau kakakmu meminta maaf, aku sudah memafkannya. yang sabar ya Ridwan" aku mengusap pundak Ridwan yang terlihat sedikit berguncang.
Ridwan pamit pergi dalam lingkaran percakapan kami, tersisa aku dan harapan ku (Aria). Lisa salah satu temanku akhirnya menghadap dengan wajah sempurna tertekuk, setelah sampai di dekat ku lisa menarik keras tangan dan berbicara padaku "Naaay, ayo pulang. gw ngantuk!" - Lisa salah satu teman yang paling manja di kelasku, tingkah lakunya yang seperti anak kecil membuat kita sepakat memanggilnya acil, singkatan dari anak kecil.

Perpisahan? aku tidak pernah mahir mengucapkan kalimat perpisahan pada semua orang apa lagi pada Aria, mulutku tidak berkata apa-apa hanyak isyarat tangan yang ku lambaikan kearahnya sampil menunjuk ke arah lisa. dia tersenyum, hatiku menjadi vakum.

Langkah demi langkah aku gerakan perlahan,masih tertegun tidak percaya atas kejadian yang beberapa menit aku lewati.Sekilas hati ku berharap,berharap aria memanggilku dan melontarkan senyum perpisahan,namun...Aku yang membuka pintu mobil tersadar bahwa itu hanya lamunan bisa,itu hanya sebuah harapan yang seharusnya tidak ada dalam otak ku.Pengalaman ini membuat ku seakan lahir kembali,begitu banyak hal yang belum siap aku hadapi harus aku lewati,iya...Inilah hidup,inilah dunia,penuh dengan fana yang terkadang berselimut dibalik realita.

Selama perjalanan teman-temanku masih sibuk dengan candaan renyah mereka masing-masing, saling melemparkan guyonan, sahut menyahut tawa lepas. Dan lagi, mereka lagi lagi tidak mengetahui kecamuk dalam hatiku, dan perputaran pikiran dalam otakku. Sore merangkak pergi berganti malam, langit menjadi gelap perlahan serta bulan yang berusaha dengan keras untuk menjadi penerang.
Aku merasa pergantian warna langit menjadi penanda selamat datang untuk dunia ku yang seutuhnya.
sesampainya dirumah, kegiatan rutin ku adalah kembali memasuki kamar dan mencari sudut paling tidak bisa dijangkau oleh cahaya sedikitpun.

Aku yang mencintai gelap bukan berarti aku membenci terang.
Gelap menurut ku sangat jujur, gelap itu apa adanya, gelap itu tanpa rekayasa. Dalam gelap banyak sisi yang tidak tersebar luas seperti terang, gelap itu dipandang misterius tapi bagiku gelap adalah hal yang sangat romantis.

Banyak sisi gelapku yang tak terjamah oleh orang lain, tapi hakikatnya gelap bertemu dengan gelap akan menjadi keserasian yang abadi.

Setidaknya untuk gelapku malam ini teramat banyak bekal yang dapat ku renungi, aku dapat memutar ulang kembali memori masa lalu tentang Dimas dan aku dapat memutar maju menyusun masa depan dengan Aria harapan ku saat ini dan entah sampai kapan dia akan tetap menjadi harapan.

Gelap, inilah aku. bantu aku untuk tenang walau hanya untuk sebentar.
 FIN~

by : Putra Zaman , M. Pratama Leonardy , dan Insany C Kamil

Read more...
separador