Sabtu, 01 Juni 2013

Wahai, Aku cemburu!

Selamat malam sayang,
Aku merindumu. Sebentar, tapi sungguh itu adalah kata-kata yang pertama kali muncul dalam dimensi pikirku. Kamu ingat tidak? Di senja yang sangat menegangkan itu, kita pernah sama-sama mendeteksi detakan jantung kita masing-masing, menghitung helaan nafas kita masing-masing bahkan mengontrol kedipan mata kita masing-masing. Aku dan kamu secara bersamaan menundukan kepala dan menanti ucapan ayahmu sampai pada titik pemberhentiaanya. Setalah kalimat ayahmu sampai pada ujungnya kamu yang masih tertunduk merasakan guncangan pelan namun pasti tudung yang kita kenakan bersama. Aku memandang yakin kearah ayahmu dan sempurnalah terucap kata-kata sakral yang pertama kali dialamatkan hanya untukmu. SAH! Ketika gemaan kata itu memenuhi ruangan maka sempurnalah jatuh tanggung jawabmu di atas pundakku.

Jelitaku,
Masih sangat harum ingatanku pada saat dimana pertama kali kita bertemu. melihat senyum yang selalu menghiasi wajahmu kala anak-anak bocah bermain kejar-kejaran dan berusaha bersembunyi dibalik badanmu, kau merunduk menyamakan tinggi dengan bocah itu dan menyentuh pipi mereka. kau tau? jilbab diwajahmu kulihat seketika melembut sayang. Pemandangan itu membuat senyumku otomatis mengembang. aku yang sejak awal tidak terlalu yakin dengan apa yang ku rasa dan hanya berani memasukannya dalam domain kekaguman. Ya, hampir 3 bulan aku memperhatikanmu dari kejauhan, sungguh awalnya aku merasa tidak sepadan dengan bidadari sepertimu. "Bagaikan punuk merindukan bulan".

Setelah aku tau ternyata kau adalah salah satu mahasiswi FIB tingkat akhir yang kuliah di daerah Yogyakarta. Pantas aku jarang melihatmu disekitaran rumah. Sesekali kamu datang ke acara remaja masjid yang didalamnya akupun ikut ambil peran. Beberapa kali kita sempat sahut menyahut pendapat, lengkap melengkapi ide dan sungguh saat itu aku bangga akan kecerdasanmu dalam berbicara dan menyusun kalimat. Kau pintar membuat orang lain kagum, sungguh. Sayang. Aku hanyalah seorang laki-laki muda biasa sekitaran rumah. Sedang kamu? Bak puteri bangsawan dari negri seribu castel. derajat kita berbeda tuan puteri.

Kamu ingat sayang, saat dimana kita berpapasan jalan? Membicarakan banyak hal dan menceritakan serentetan mimpi kita masing-masing? Banyak tawa pecah, senyum kita berserakan dimana-mana, candaan kecil kita obral bahkan pertanyaan serius yang kadang aku dan kamu lemparkan. Sampai pada satu titik crucial aku memberanikan diri untuk melontarkan pertanyaan ini "De... Kapan terget menikah?" senja yang tadinya ramai seolah meredam dan hanya ada suara langkah kaki kita. kamu menganggkat wajahmu dan melemparkan senyuman manis itu "Aku gak punya terget pasti mas, kalau memang sudah ada seorang lelaki yang datang ke ayah dan ayah merestui ya monggo.. Insya Allah saya sami'na waa ato'na sama semua yang di ucapkan ayah". Aku merekam semua kata-katamu senja itu sayang, dan sungguh banyak pemikiran orang-orang yang salah memandang kamu dan keluagamu. Kesederhanaan menjadi identitasmu, mau bagaimanapun kondisi keluagamu saat itu ataupun nanti.

Tidak ada yang berubah semenjak percakapan itu, kau kembali ke kota dan ladang jihadmu, dan aku tetap mengumpulkan sedikit demi sedikit keberanian untuk mendatangi ayahmu. Bak rakyat jelata yang ingin menghadap raja. Kuketuk istana tempat kamu dibesarkan dan terbukalah pintu awal itu. Ya, terbukalah pinti awal itu dengan sangat lancar tanpa ada hambatan. Maka benarlah janji Allah bahwa Dia akan memudahkan semua niatan baik. Lagi-lagi sayang, bayak orang diluar sana yang tidak mengenal keluargamu dengan baik tapi dengan PD-nya mengumbar hal hal yang berlebihan. Kata siapa ayahmu adalah sosok yang menakutkan? Tidak, dia humoris. Sungguh. Kata siapa ayahmu adalah sosok yang menilai seseorang dari materi yang dipunya? Tidak, dia menilai seseorang dari otak. Sungguh.

Aku dan kamu menjalani masa taaruf selama 2 bulan dengan dibumbui perhatian yang alakadarnya dan tidak berlebihan. Semata hanya untuk membuat satu sama lain semakin yakin dan menaburkan benih benih cinta yang akan berkembang jika memang sudah waktunya. tidak diumbar seperti kebanyakan orang, saling mengucapkan "Aku cinta" lewat perantara Sang Maha Cinta. Saling melabuhkan pengharapan lewat Sang Pengumpul harap berupa Do'a. saling menyemangati untuk menyelesaikan tugas akhir kita sama-sama, dan ah sudah. Sungguh itu sudah sangat cukup sayang.

Sekarang istana kecil kita sudah dihiasi oleh suara tangisan sang pangeran kecil yang gagah biarpun masih dalam gendongan, dia mengambil seluruh tatapan hangat kepunyaan kamu sayang. Aku harus berusaha keras membuat senyuman pengeran itu mengembang, karna dia sempurna mengambil sifat suka ngambek kepunyaan aku. iyah, sekarang aku jadi tahu bagaimana rasanya disiram ambekan subuh subuh buta.

Sayang ketika aku mengetik semua huruf ini pangeran kita sudah terlelap dalam dekapan selimut kesayangan kamu, dan aku akupun sudah terhanyut dalam dekapan rindu yang selalu beralamatkan hanya untukmu. Kamu tahu sayang? Kamu adalah perempuan yang sangat kuat dalam segala jihad yang sedang kamu hadapi. Aku pernah begitu tertariknya pada saat kamu memanggil namaku cepat hanya untuk mengatakan "Mas... tadi aku habis baca artikel, di dalam artikel itu dikatakan bahwa sebaik-baiknya perhiasan adalah wanita sholihah dan wanita sholihah lebih baik dari bidadari-bidadari di syurga. Mas, wanita sholihah bisa membuat bidadari-bidadari syurga cemburu mas. Hhm aku bisa gak ya jadi salah satu yang membuat bidadari syurga cemburu?"

Malam itu, 3 bulan yang lalu tepat pada tanggal kesukaanmu 23, kamu sempurna membuat seluruh bidadari syurga cemburu karna ribuat malaikat menyambutmu dengan bagitu hangat. Suara tangisan pangeran kita pecah bersamaan dengan bisikan lirih kalimat dua syahadat yang berusaha kau ucapkan. Saat itulah aku bagaikan dipukul dari berbagai arah. Sedih luar biasa karna harus kehilangan sosok lembutmu tapi dalam detik yang sama aku bersyukur karna telah resmi menjadi ayah dari anak laki-laki yang sempurna tanpa cacat sedikitpun.

3 jam sebelum kejadian mengharukan sekaligus menggembirakan itu kamu sudah terbaring diatas ranjangmu, menanti detik-detik menegangkan dan penyempurnaan sebagai seorang wanita. aku? Cemas luar biasa! Tapi kamu masih saja memasang sneyuman lembut itu malah sesekali meledekiku "mas, jangan tegang! muka tegang kamu jelek, bikin aku mau ketawa. Ganti aah mukanya!". Malah sempat-sempatnya kamu mengucapkan kalimat yang membuat keteganganku semakin berkurang sekaligus bertambah karna menebak maksud dari ucapanmu. "Mas... kamu ingat saat dimana pertama kalinya aku mengucapkan keinginanku? Aku ingin membuat bidadari syurga cemburu mas. tapi aku masih merasa kurang sholihah, aku masih sering ketiduran sholat tahajud, kadang juga mas duluan yang bangun tidur dibanding aku. Aku minta maaf mas, kalau selama ini belum bisa menjadi isteri sholihah sesuai dengan keinginan mas. Aku hanya ingin mas ridho dengan semua yang aku perbuat, itu sudah sangat lebih dari cukup. sungguh.."

Detik saat dimana kamu mengalami pendarahat dahsyat disela konsentrasi penuhmu dalam mengerahkan seluruh tenaga masih sempat sempatnya kamu mengucapkan dengan nada yang sedikit bisa kudengar "Mas.. Apakah mas ridho dengan aku?" Sungguh bukannya ingin tidak mengiraukan ucapanmu kala itu jelitaku, hanya saja aku melihat jilbab diwajahmu benar-benar melembut. Dengan sisa sisa udaha yang kamu punya akhirnya aku memberanikan diri utuk berbisik ditelingamu "De... Mas ridho atasmu, sungguh mas ridho" setelah kalimatku ditangkap oleh gendang telingamu, kamu makin menyimpulkan indah sebuah senyuman untukku dan pangeran kecil kita memacah keharuan dengan buncahan tangisannya. kamu meninggalkan aku dan pangeran kecil kita dengan hiasan senyum dalam wajah.

Sungguh sayangku, malam itu kamu sempurna membuat bidadari syurga cemburu dan membuat mereka kalang kabut karna memiliki saingan kuat ketika kau masuk didalam salah satu dari mereka. bahagialah disana bidadariku, semoga kelak keluarga kita akan bersatu dalam JannahNya. Aminn..

Pangeran dan raja sangat merindukanmu, puteri ratu. Ah memang benar, bidadari itu kan tempatnya di Khayangan!
Kamu berhasil membuat bidadari syurga cemburu dan kamu juga berhasil membuat aku cemburu pada dibadadari syurga yang dapat didekatmu setiap hari.


note : Teruntuk seluruh wanita didunia, kalian kuat jauh lebih dari yang kalian tahu. Sungguh.
Read more...
separador

Minggu, 19 Mei 2013

Secangkir Rindu yang Getir

Teruntuk wanita yang tak merinduku

Halo, apa kabar?

Aku harap kamu baik-baik saja dan selalu bahagia. Bagaimana keadaanmu sekarang? Lebih baik? Aku mengharapkan apa-apa yang terbaik untukmu.

Ada yang bilang, jatuh cinta itu seperti menebak langit. Kau tak tahu warna apa yang akan muncul satu jam kemudian. Mungkin cerah, mungkin juga hujan. Namun sayangnya, aku terlalu jatuh. Seperti jatuh dari eksosfer ke tanah, jatuh dari dataran tinggi Tibet ke dataran terendah di bumi, laut mati.

Sakit.

Teruntuk wanita yang tak merinduku.

Tahukah kamu bagaimana rasanya? Rasanya jatuh cinta pada orang yang bahkan tak pernah merindumu, pada orang yang bahkan tak tahu hadirmu, pada orang yang bahkan tak tahu ada lelaki yang sedang merindukan semua tentang dirimu? Sebut saja lelaki itu, aku.

Teruntuk wanita yang tak merinduku.

Aku menunggu. Aku menunggu kamu untuk menyapaku terlebih dahulu. Aku menunggu kamu yang menggenggam erat jemariku. Aku menunggu kamu yang menatap kedua bola mataku. Aku menunggu kamu yang tersenyum hanya untukku. Aku menunggu kamu..namun ada yang lain yang sedang kamu tunggu, dan itu bukan aku.

Teruntuk wanita yang tak merinduku.

Kamu paling tak tahan dengan menunggu. Kamu bahkan pernah memarahiku karena telat 8 menit hanya untuk membukakan pintu.

Lain halnya dengan sekarang. Mungkin, menunggu berapa lama pun kamu sanggup jika untuk lelaki yang kamu sayang. Sedangkan aku? entahlah..

ditunggu delivery mogu-mogunya,, 


Teruntuk lelaki yang sangat besar sok taunya.

Kamu adaah lelaki yang paling sok tau yang pernah aku temui. Siapa bilang aku tidak merindumu? Apa dengan terus mengingat tempat biasa kita bertemu, mengingat tempat biasa kita duduk bersama, meniti jejak yang sama pada saat kita mengukur langkah dari terminal sampai rumah, mengingat terus tanggal kita bersatu bahkan tanggal kita berpisah, dan seketika mati ditikam rindu pada saat ku dengarkan playlist yang sama pasa saat kita masih bersama itu bukan rindu namanya?
 

Teruntuk lelaki yang sangat besar sok taunya.
 

Kamu sakit, aku tau jelas itu. dan tanpa aku sadari kesakitanmu juga kurasakan belakangan ini. 
Sekarang aku merasakan bagaimana rasanya merindu tanpa dibalas, bagaimana rasanya antusias di balas dengan kedataran, bagaimana rasanya kesepian, bagaimana rasanya bingung harus mengatakan apa dan pada siapa. Kehilangan ini mengajarkan aku banyak hal, terutama belajar merasakan apa yang kamu rasakan.
 

Teruntuk lelaki yang sangat besar sok taunya.
 

Aku ingin menghampirimu, tapi aku takut. takut berbuat kesalahan yang sama lagi seperti dulu. Kamu terlalu sakit. dan aku benar-benar menyesali semua itu.
Maafkan aku wahai lelaki yang sangat besar sok taunya.
Tapi satu hal yang perlu ku tekankan disini.
Kamu tidak sendirian, aku pun merindukanmu. sangat. Mungkin lebih besar dari rindu milikmu.
 

Ditunggu juga traktiran mogu-mogunya.. 

Kepadamu, aku menyimpan cemburu dalam harapan yang tertumpuk oleh sesak dipenuhi ragu.

Terlalu banyak ruang yang tak bisa aku buka. Dan, kebersamaan cuma memperbanyak ruang tertutup.

Mungkin, jalan kita tidak bersimpangan. Ya, jalanmu dan jalanku. Meski, diam-diam, aku masih saja menatapmu dengan cinta yang malu-malu.

Aku dan kamu, seperti hujan dan teduh. Pernahkah kau mendengar kisah mereka? Hujan dan teduh ditakdirkan bertemu, tetapi tidak bersama dalam perjalanan. Seperti itulah cinta kita. Seperti menebak langit abu-abu.

Mungkin, jalan kita tidak bersimpangan….

— hujan dan teduh


Kepadamu, aku pun masih sering memetikkan dawai kekeheningan ketika malam mulai menerkamku sadis dari belakang.
 

Aku mengetahui hakikatnya memang selau ada sisi yang tidak bisa dideteksi oleh jangkauan nurani.
 

Kita sama-sama berjalan, mungkin dalam satu fokus dan tujuan yang sama, tapi layaknya hulu sungai semakin jauh maka semakin besar tepian dan semakin banyak pula anak sungai disana. tenang, sebanyak apapun anak sungai yang membelah, semua aliran itu tetap terfokus pada satu ; laut.
 

Masihkah wajar sekarang membahas tantang cinta diantara kita?
jangan membuat ku kelu, karna sekarang makna cinta dalam diriku kian lama kian memudar. kian lama kian berpendar.


Mungkin benar malaikat itu tak bersayap,
mereka terbang karena ringan

Dan aku tak perlu memohon padamu untuk memperbaiki sayapku yang telah kau patahkan
karena aku hanya perlu ringan untuk kembali terangkat, melayang, dan terbang


Sayapmu memang pernah kupatahkan, aku mengakui itu. Tapi aku rasa sekarang kau sudah membuang sayapmu yang rusak dan sudah kau ganti dgn sayap yang baru. Selamat. terbang. Ketempat yang jauh lebih tinggi. Melebihi pencapaian sayapmu yang dulu. selamat. terbang. terbang.


Yang menyakitkan adalah ketika kamu merampas pena, sehingga tak bisa lagi ku tulis cerita tentang kita, pun rasa sudah kau tamatkan lebih dulu
— Tanpa awal, tanpa akhiran


Buat apa lagi menulis tentang kita, jika nyatanya ada cerita baru yang mungkin menurutmu lebih seru. Jika memang pena itu kurebut, bukannya dapat dengan mudah kau pakai pena yg lain untk menuliskan kisah yg lain.

Kamu cemburu?


Masih perlu ditanyakan?

Ya ku tak berhak menanyakannya pun gak berhak untuk mengetahui jawabannya..

Jangan mempertnyakan pertanyaan yg udah jelas kamu tau jawabannya!





Read more...
separador

Selasa, 09 April 2013

Tatapan Mata dalam Maya


Aku di sini tak berjarak dengan semua koneksi yang bisa menghubungkan rinduku dan rindumu. Kusingkirkan semua hal yang dapat menambah milimeter jarak antara sosokmu dalam imajiku. Aku bersiap mengambil posisi terbaik di depan wabcam yang dapat menangkap keseluruhan dari rinduku. Menanti wajah teduhmu masuk ke layar laptopku adalah saat-saat yang menegangkan bagiku. 

Now we’re connecting…

Selamat senja, Putra.
Ketika aku melihat wajahmu, maka lelahku luntur tersapu sekejap mata, Putra. Aku jadi teringat, jika aku melahap habis senyummu senja ini, akankah senyum itu yang kau sajikan untuk perempuan lain di luar sana? Aku harap tidak, karna ulah senyuman itu kau membuatku jatuh ke lautan tersunyi yang pernah kutemui.

Selamat senja, Sunny.
Senyum ini sebenarnya bukan untukmu, tapi untuk setiap senyummu. Jika kau tersenyum, senyumku akan mengikuti setiap lengkung senyummu. Kau pasti tak pernah melewatkan pelangi, bukan? Kau pasti sudah paham, jika pita merah bianglala itu melengkung sempurna, lengkung pita jingganya pun tak pernah kalah sempurna. Senyummu merah, senyumku jingga.
Bagaimana harimu, gadisku? Ah, pertanyaan klise. Aku selalu kehabisan kata jika kau tersenyum seperti itu.

Hariku ini biasa saja, Putra, tapi itu hanya berlaku sebelum kujamah habis wajahmu. Kamu tahu, kan, kalau kamu paling ahli menyulap hariku yang biasa menjadi sempurna tak terkira, Putraku, cahaya keduaku.
Ribuan zaman telah kuhabiskan dalam kesunyian, dan kau hadir di saat yang telah Tuhan tentukan, Putra, ketika pertama mata kita saling bertemu nyatanya aku merasa telah lama mengenal teduh itu. Teduh yang kau pancarkan dari kedua bola matamu.

Ah, kau bawa lagi ingatan itu, Sunny. Ingatan tentang betapa cinta yang diam-diam menyelinap masuk melalui celah-celah kecil di hatiku itu, semakin indah sejak kutatap matamu dalam-dalam. Semakin kuat sejak kugenggam jemarimu erat-erat. Dan semakin tumbuh besar sejak kita tak lagi punya daya menyimpan cinta rapat-rapat. Hingga semua rasa tumpah dalam waktu-waktu bersama yang kita beri makna.
Tapi apa daya, kini kita hanya bisa bertatap dalam layar kecil ini. Jemarimu tak bisa lagi kugenggam erat. Tapi kuyakinkan kepadamu, gadisku, aku tak pernah lupa melangitkan doa dalam setiap malam-malamku sebelum aku terlelap. Aku selalu meminta Tuhan kita, agar Dia bersedia pertemukan aku dan kau, meski hanya dalam mimpi. Dan tak pernah alpa kusambut hadirmu di alam surgawi yang tercipta saat mata ini terpejam.

Aku memang bukan sejarawan yang menghafal setiap detail peristiwa berkembangnya kerajaan Majapahit, tapi cukup bagiku bila dengan fasih dapat kuulang potongan sejarah berkembangnya perasaan aku terhadapmu, Putraku.
Salahkanlah aku! Karena ketika dulu tak dengan serius kupelajari tentang teori Fisika. Karena ketika kita berada dalam satu frekuensi, seketika hatiku jatuh dipangkuanmu dan lupa akan gravitasi.

Tak perlu menyalahkan apa dan siapa. Akulah yang bersalah, hingga membiarkan bentangan jarak menjadi penghalang bertemunya tatap kita. Tapi kau tetap tenang ya di sana, tunggulah saat-saat aku kembali. Saat-saat nanti kugenggam lagi jemarimu, saat-saat nanti kutatap lagi matamu dalam-dalam.
Gadisku, yang sangat aku rindukan. Aku pergi hanya sementara, berjuang merintis bahtera masa depan kita, agar kelak kita siap berlayar mengarungi samudra kehidupan kita.

Ah, begitu nampakkah kegundahan dalam wajahku ini hingga dengan cekatan kamu menenangkanku dengan barisan kata-kata indahmu? Aku akan menanti kamu, Putra, pangeran tanpa kuda gagah dalam hidupku.
Aku masih mengigat janji yang kamu tandakan dalam kalender surga, Putra, biar sela jari yang tercipta untuk diisi oleh jarimu masih kosong tak berpenghuni, tak apa. Asal kamu mengisi setiap sudut dalam ruang sadar dan tak sadar dalam otakku.
Putra, dominasi not dalam detak jantungku.
Pernah ku memahami jelas tentang lensa cembung, cekung dan datar, urutan proses sebelum benda terefleksi sempurna. Setelahku mengenalmu, maka terciptalah lensa baru, kunamakan ini lensa cinta karna dalam lensa cinta bayanganmu masuk ke dalam lensaku, menetap dan diperbesar setiap harinya.

Sunny,
Tak satu detik pun dalam hari-hariku cinta itu berkurang, cinta yang kita jaga dengan penjagaan yang kita serahkan kepada Tuhan, Sang Pencipta rasa itu sendiri. Biarkanlah Dia genggam janji-janji kita, hingga nanti, jika saatnya sudah datang, janji-janji itu akan mampu kita penuhi dengan segala kekuatan yang Dia pinjamkan.
Gadisku, yang begitu aku cintai. Kau jangan pernah lupa mendoakanku, ya. Karena dengan doamu dari sana, aku tenang dalam pengembaraanku di sini. Doakanlah aku senantiasa, maka angin akan sedia mengalirkan doa-doa itu menuju singgasana-Nya.

Ah, sayang, kamu mengingatkanku untuk mendoakanmu? Itu sama saja kau menggurui katak untuk melompat, karna nyatanya di setiap helaan nafasku, sempurna teruntai doa yang beralamatkan untukmu.
Putra, kini aku hanya memiliki satu rangkaian setia dan satu kotak berisikan hati, apakah itu cukup untuk bekal perjalanan panjang kita sampai nanti?

Aku tahu, Sunny.
Aku hanya memastikan agar doa-doa yang kita langitkan bisa bersama-sama sampai di hadapan-Nya dan menunggu waktu untuk Dia kabulkan.
Bahkan setitik hatimu saja sudah lebih dari cukup, sayang. Tak perlu kau berikan seluruh hidupmu, tak perlu kau korbankan semua waktumu. Karena hidup dan waktumu bukan untukku, juga hidup dan waktuku bukan untukmu, tapi untuk kita jalani bersama, hingga akhirnya kita tak lagi miliki hidup dan waktu di kala senja menghampiri kita.

Tuhan Maha Pencinta, Dia yang membuat aku dan kamu saling merajut cinta setiap waktu di kala senja, kita lukiskan pelangi ribuan pixel di luasnya langit rindu kita.
Putra, berkat kamu kata “aku dan kamu” sempurna melebur menjadi satu dan terlahirlah kita untuk mewakilkan rasa yang sama-sama kita jaga.

Benar katamu, gadisku, Tuhan Maha Cinta, Maha Kasih, dengan cara-Nya mempertemukan aku dan kamu dalam koridor cinta yang tak terbayangkan olehku sebelumnya. Dia juga Maha Sempurna, betapa Dia sempurnakan rasa yang setia mendiami hati kita meski jarak tak mampu lagi kita taklukkan.
Malam sudah mulai larut, Sunny. Sudah saatnya kita bertemu dalam alam yang memang Tuhan ciptakan bagi setiap hati yang saling mencinta namun terpisah oleh bentang jarak.  Kau tahu, aku sudah tak sabar ingin menyambutmu segera di sana.

Kalaulah dapat kucairkan rinduku maka niscaya seluruh ruang gerakku dipenuhi sesak oleh kata-kata lirih pertanda ingin segera bertemu.
Putraku, nafas keduaku, bulir nadiku.
Rindu ini semakin memuncak setiap detiknya, jika kupejamkan kedua mataku seketika tergambar wajah dan tercium pekat harummu.
Aku memang sedang mempelajari tentang psikologi tapi berkat cintamu dapat kurasakan jelas sosokmu merambah masuk dari alam sadarku sampai alam bawah sadarku, kau menetap di situ.
Ah dasar kamu! Orang yang paling ahli membuatku lupa akan waktu, sudah malam yah, sayang? Inikah pertanda kita harus mengucapkan pisah di tengah jalan?

Apalah arti perpisahan sementara ini, bila nanti kita akan bertemu di alam mimpi, bersatu tanpa seorang yang mengganggu. Masih ada hari esok, gadisku. Mari kita beri waktu bagi rindu untuk kembali memendam butir-butir rasa, hingga esok kutemu kembali wajah manismu dari layar ini lagi. Bercerita lagi tentang harimu. Sekarang saatnya kita jaga kesehatan, ini untuk masa depan kita juga, bukan?

Ini adalah detik aku melepasmu dan aku akan kembali lagi pada kenyataan memeluk bayangmu dan menggenggam hampa jemarimu, terima kasih melodi nafasku. Cukuplah bagiku beristirahat beralaskan kata-kata indahmu dan berselimutkan hangatnya senyumanmu. Temuilah aku di senja yang lain, sayang.
Kamu diam, aku mati.
Kututup percakapan dengan kecanggungan yang mengakar. Ya, aku adalah perempuan yang bodoh dalam mengucap perpisahan seakan kelenturanku dalam merangkai kata menjadi beku seketika wajahmu menghilang dari layar, tapi tidak akan pernah kuizinkan parasmu lenyap dalam ingatan.

We're always Connecting... always.

Read more...
separador

Minggu, 31 Maret 2013

(Big on) Little Things :")


'Cause it's you, oh it's you, It's you, They add up to And I'm in love with you, And all these little things'
Read more...
separador

Minggu, 03 Maret 2013

Awal mu adalah Akhir ku

Pipipipip Pipipipip
Suara alarm Handphone kesayanganku berbunyi tepat pukul 05.00, aku membuka mataku dan benda pertama yang kuraih tidak lain dan tidak bukan adalah Handphone ku. Matiin alarm, buka notification yang numpuk karna tadi malam aku ketiduran.
"Pagi-pagi udah dapet pesan yang gak ngenakin. Ih yang namanya orang ketiduran ya gak bisa bilang-bilang laah" gerutuku pada pesan pacar yang tidak terima karna aku tidur tidak memberitahu dia.
Kubanting Handphone ke kasur, ku ganti dengan handuk dan beberapa potong baju yang akan ku gunakan untuk ke kampus hari ini.

Selamat pagi dunia~
Hari baru ku sempurna dimulai pada saat aku siap mengambil langkah pertama menuju kampus dengan pakaian yang masih halus di setrika dan parfum merembak kemana-mana.
Aku Siap!

"Sarapan dulu! Baru boleh berangkat!" Kak Lisa memperingatkanku saat ia lihat aku sudah berdandan cantik keluar kamar. Aku mendekatinya, menyicipi masakan yang ia buatkan pagi ini.
"Eeeh... Sekarang kamu genit ya! Udah pakai eyeliner segala. Kuliah itu belajar bukan ajang kontes kecantikan!"
Dia mencubit lenganku.
"Berisik ka!"
Aku memukul pipinya pelan. Lalu kami berdua tertawa, sambil menghabiskan sarapan pagi ini. Selain Ibu, hanya Ka lisa kakak paling cerewet yang aku punya. Biarpun ibu tidak ada dirumah, kecerewetan Kak Lisa sudah cukup menghidupkan rumah ini, menurutku. Mau bagaimana lagi, aku dan kak lisa memang tak pernah tahu dimana Ibu. Kami hanya tinggal berdua di rumah peninggalan mereka. Ibu menghilang begitu saja. Sedangkan Ayah? Wah aku tidak pernah tahu harus berkata "Ayah" pada siapa. Kami tak pernah tahu siapa ayah kami.


"Kak udah ah, aku takut telat Pelajarannya prof Malik neeeh, Killer. kalo telat dikit bisa di gantung di pojokan kelas!" aku pamitan sambil sibuk melangkah keluar.
"eey emang pacarmu udah jemput apa?" "udah nyonyaaa. bye" aku berlalu.
Setiap hari aku selalu di jemput pacarku untuk ke kampus, yaah inilah untungnya punya pacar yang satu kampus, ada kang ojeg gratis. hehe
"Sayaaaang~" aku mendekat dan langsung merangkulnya. Selain tukang ojeg, pacarku juga tukang ngambek. masih inget kan kalo dia ngambek karna aku ketiduran tadi malam? iya, ngambeknya berkepanjangan sampai dia jemput aku di depan rumah. "jangan ngambek dong ganteng, akunya kan ketiduran, jadi mana bisa ngasih tau kamu? aku aja gak ada niat buat ketiduran kok. suer! bagi senyumnya dooong? dikasih gak yaa?" aku sukses menggodanya sampai senyum paling manis kepunyaan pacar tersayang mengembang sempurna.
"ah kamu! udah nih senyuuum. ayo naik, prof Malik nih. mau di gantung kamu?" jawab dia.
"kalo aja di surru milih, mending di gantungin sama Prof Malik diujung kelas sama di gantungin hatinya sama kamu. bekh aku mendingan di gantung Prof Malik yank! sungguh!" gombalku.
"iiii dasar kamu" dia tersenyum sambil mengusap-usap rambutku.

Iya, aku masih "pelontos", aku tidak berhijab seperti kakakku. Ngapain juga berhijab sekarang? kan masih muda? pacarku juga gak keberatan aku belum berhijab. Tunggu Hidayah aja deh, itu yang selalu bergeming didiriku.

"Nih." Si ganteng menyodorkan helm untuk kugunakan. Tak lama kami melaju menuju kampus.
***
Siang ini sungguh terik. Raja siang kokoh berada tepat di bawah ubun-ubunku. Suasana kampus sudah terlihat ramai sejak beberapa menit yang lalu. Di waktu seperti ini memang merupakan jam istirahat masal bagi semua mahasiswa. Aku masih di taman, sendirian. Romi belum juga datang. Tadi setelah kelas Prof Malik selesai ia segera pergi meninggalkanku. Katanya mau buatkan surpise untukku karena hari ini merupakan momen yang menandakan kalau aku dan Romi sudah empat bulan berpacaran. Oke aku surprise. Terlebih dia romantis. Tukang ngambek iya, banyak makan juga, tapi aku suka semua sifatnya.
Iya, dia itu penuh dengan kejutan, sampai sekarang aku gak habis pikir berapa lama dia menyiapkan kejutan ini. Dia meminta aku untuk tunggu dia di salah satu sisi taman halaman kampus kita, banyak teman-teman kelas disana, iya kabanyakan perempuan dan laki-laki hanya beberapa di lingkaran itu. setelah asyik membahas tentang pelajaran Mr killer tadi, dan tiba-tiba dari belakang teman-teman beserta Romi menyiramku dengan air yaks, itu air apaa!! menjijikan sungguh baunya. tenang, semua tidak berhenti di air yang entah asalnya dari mana. karna tempat tongkrongan kita tidak terlalu tengah malah lebih ke sudut taman jadi tidak banyak orang yang mendengar dan melihat kejadian memalukan itu. setelah badanku diguyur basah kuyup oleh air aneh, teman-temanku beserta Romi mengikat tanganku di salah satu batang pohon dan mereka semua puas melempari tepung, telur, bahkan tanah beserta yang lain. Sungguh. satu hal yang ada di benakku, "Ini anniversary kan? bukan ulang tahun!" yang ada di bayanganku Anniversary di bulan yang keempat akan menjadi salah satu momen terromnatis yang pernah aku rasakan, tapiiiiiii? bulan keempat kita jadian malah menjadi momen ter ter ter-aneh yang pernah aku rasakan.
"Apaan seeh? ini anniversary kan! bukan ulangtahun. apa-apaan sh kamu Rom?" teriakku kewalahan.
"sayang aku gak mau mindstream, aku mau ngerayain kayak gini. kan sama-sama merayakan yaaank. aah kaamu cantik cantik dari hatimuu~" Romi menggodaku jahil.
"yaank ini baju aku gimanaa? aku gak mungkin pulang kerumah dengan keadaan kayak gini, kak Lisa pasti marah! kamu harus tanggung jawab, abis bercandanya kelewatan sihh!" rengekku tak terima.
teman-teman yang lain menertawakan tingkahku dan selalu menggoda setiap kata yang aku keluarkan.
"Udah, lo bersih-bersih aja dulu di kosan Romi Kal. nanti lo boleh pinjem baju gue sementara. kan kosan gue sama Romi deket-deketan. tapi gue pulangnya rada sorean dikit. gpp kan?" Sarah memberikan saran.
"iyaa sayangku Kalista, kamu bersih-berrsih aja di kosan aku yah? maaf ya sayang." Romi membantu menenangkan dan menyakinkanku.
Aku tak menjawab hanya mendnegus kesal dan badanku di tarik Romi menuju motornya.
 ***
Dingin. Tertidur tanpa pakaian sungguhlah menyiksa. Aku mengedipkan mataku. Mencoba menguasai diri di tempat yang gelap. Sepertinya di luar sudah hampir subuh. Berarti aku pulas tertidur lebih dari tiga jam.  Pegal-pegal badanku. Terlebih kasur Romi di kosan tidak senyaman kasur dikamarku. Dan Romi, tangannya sibuk meraba-raba tubuhku meski ia sedang tertidur pulas di sebelahku. Aduh! Apa kata kak lisa nanti kalau ia tahu apa yang telah terjadi padaku. Aku dan Romi dalam keadaan sadar melakukannya. Sebagai tanda cinta, sebagai hadiah empat bulanan kami jadian. Tenang Kalista, tidak akan ada hal buruk yang terjadi. Batinku.
Segera kukuasai pkiranku dengan segala hal yang menenangkan, oke lebih tepatnya mencoba untuk menenangkan. semua berputar-putar "Ini baru satu kali kan?" "Tenang tenang Romi pasti akan bertanggung jawab!" "Aku cinta dia, pun juga dia. jadi tidak apalah". Ku lihat wajah Romi, lelaki yang sangat kucintai. Ku belai wajahnya dan matanya pun terbuka dan langsung berucap "Sayang, semua akan baik-baik saja, tenanglah" aku hanya tersenyum. Iya aku percaya padanya.

Ku pinjam kamar mandi di kostan Romi, aku mandi dan tidak perna berhenti-hentinya aku tetap memikirkan apa yang akan terjadi jika hal yang paling buruk menimpaku. Bagaimana dengan kak Lisa? Aku inget betul tadi malam aku mengirimkan pesan singkat ke kak Lisa yang berisikan malam ini aku akan menginap di kostan Sarah, ada tugas yang aku kerjakan. Iya, nyatanya memang ada yang ak kerjakan tadi malam, tapi bukan tugas dan bukan di kostan Sarah.
Dari luar kamar kudengar handphoneku berbunyi. Aku segera keluar kamar mandi. Kak lisa.
"Dimana?" Suara di sebrang sana memanggil.
"Kosan Sarah Kak. Belum bisa pulang. Pagi ini mau kuliah lagi." Kilahku cepat. Dalam situasi seperti ini aku harus bisa berbohong.
"Ini hari minggu, centil. Buruan deh pulang. Aku takut kamu kenapa-kenapa"
"Lebaaay! Iya ini aku pulang."
Klik. Kumatikan ponselku. Segera bergegas.
"Kal, kalau kamu hamil aborsi aja ya. Hati-hati di jalan, oya selamat pagi sayang." Setengah sadar Romi menyapaku.
"Tapi kamu mau tanggung jawab kan? Aku kalau hamil tidak akan menggugurkannya. Ini kan buah cinta kita." Aku segera keluar kamarnya. Pulang. 
Selama perjalanan rumah pikiranku masih dikuasai oleh ketakutan-ketakutan yang besar akan sesuatu hal yang paling buruk mungkin akan terjadi, tapi lagi-lagi aku berusaha untuk menguasai diriku  dengan positif thingking.
Sesampainya dirumah aku langsung masuk kedalam kamar, aku tidak menghiraukan pertanyaan kak Lisa tentang beberapa hal. Ini hari minggu dan besok aku harus datang ke kampus lagi dan hidupku akan dimulai dari awal, tetap menjadi diriku sendiri dan tidak membiarkan fikiranku dengan hal-hal buruk.
***
Senin datang, hubunganku dengan Romi masih baik-baik saja, kak Lisa tetap dengan cerewet yang sama. "Iya, semua akan baik-baik saja" ucapku pada diri sendiri.
Waktu terasa begitu cepat, hari-hari bagai menyingsing ramping setiap minggunya. Tanpa terasa 1 bulan sudah kulewati, hubungan ku dengan Romi semakin berjalan baik sekali, dia semakin mencintaiku pun juga dnegan aku, teman-teman mewarnai semua kehidupan kampusku dengan sempurna dan aku menjadi sering mampir kekostan Romi untuk sekedar melepaskan "kerinduan" kita berdua. Iya, Romi memang lelaki yang sangat pintar meyakinkan, jadi dengan tanpa ragu aku memberikan semua yang dia minta.

"Kal, kapan mau belanja bulanan nih? nanti sore aja yuk? udah banyak keperluan rumah yang menipis persediaannya. kamu catet dulu tapi yah kebutuhan yang harus ditambah" Kak Lisa memecah kesunyian siang itu dikamarku.
"Sippoo!"
Aku membuka lemari kosmetikku dan lemari pakaian ku. mencatat semua kebutuhan yang menipis dari bedak, syampoo, pelembab, pembalut. mataku berhenti pada pojokan lemari baju tempatku menaruh pembalut, sebentar aku selalu rutin memasok pembalutuntuk 1 bulan dan pasti habis tapi kenapa masih ada 1 bungkus yang tak terkoyah sedikitpun pembukusnya? dan aku baru teringat, aku belum datang bulan bulan ini. Bagai petir disiang bolong, ketakutanku meraja dan terus membesar setiap detiknya.
Mungkinkah, aku, hamil?
"Woy kal, cepet kesini. Mana list belanjaannya!" Kak lisa memanggil. Aku segera memasukan testpack dalam list ingatanku. Berharap apa yang terjadi tak seperti yang kubyangkan. Kami berangkat.
Jantungku berdegup kencang saat aku dan kak lisa memasuki pusat perbelanjaan.
"Kak aku pisah ya mau cari keperluan lain" ucapku bpada kak lisa. Ia hanya menangguk. Aku bergegas menuju satu barang. Menelusuri rak demi rak demi mencari barang yang kutuju. Ah itu dia! Segera aku menuju kesana.
Bruk!
Tubuhku menabrak seseorang. Romi. Dengan wanita lain. Berpegangan tangan. Dia hanya menatapku seolah tak pernah kenal denganku.
Aku yang masih sibuk mengusir pikiran tentang kemungkinan aku hamil langsung teralihkan pada saat melihat Romi jalan bergandengan mesra dengan perempuan lain. oke, aku mencoba untuk mengontrol diriku sendiri dan menghampiri Romi yang berusaha mempercepat langkahnya untuk menghindar dariku. "Romii!" aku teriak, Romi menoleh. "Hey, Rom. apa kabar lo? eh iya gue dapet titipan pesen dari pacar lo, katanya Dia minta putus! oke, gue duluan yah Rom" Jelas ku. Romi dengan wajah yang sangat kebingungan dan ketakutan bercampur jadi satu ketika menghdapiku. Perempuan yang sedang bersamanya memaksa penjelasan dari kalimatku sambil memukul dada Romi berkali-kali. Dan aku, pergi. Dengan rasa sakit yang berguguran setiap langkah.
Romi, lelaki yang dulu sangat ku puja sekarang sempurna membuatku bermuram durja.

Aku tidak menceritakan kejadian tadi kepada kak Lisa karna menurutku bukan hal yang penting untuk diceritakan. Kondisi fisik dan batinku benar-benar terguncang hari itu. Dengan diam-diam aku memasukkan alat tespeck kedalam keranjangku dan aku menghitung sendiri di kasir yang berbeda dengan belanjaan rumah.

Aku pulang dan langsung membersekan barang-barang yang kami beli hari itu. Setelah selesai aku memutuskan untuk masuk dan mengurung diri di kamar. Pikiran-pikiran depresif benar-benar menguasai malam itu, sempat ada fikiran untuk membuat Romi merasakan apa yang aku rasakan, sumpah serapah berserakan malam itu, dan penyesalan terhadap semua yang sudah aku lakukan menjadi sangat dominan.
Aku lelah, dan aku pun tertidur.
 ***

"Gugurin dek. Aku nggak mau menanggung malu" Kak lisa menatapku tajam. Sarah yang berdiri disebelah kak lisa juga menyahut tak kalah sengit.
"Iya sayang, di gugurkan aja. Gak akan sakit kok. Di kuret cuma sebentar."
Sore ini hujan deras. Petir terus menyambar. Aku menanhis, bersamaan dengan riuhnya suara hujan yang turun. Aku masih terus saja menangis. Dugaanku bahwa aku hamil benar. Tadi pagi aku mengeceknya dan aku benar benar positif hamil. Bagaimana mungkin! Aku tahu semuanya. Semua kesakitan itu. Lalu tiba-tiba Kak lisa dan Sarah menyeretku dengan paksa, pergi mengunjugi Ibu Desy, penjual jamu menggugurkan kandungan yang paling terkenal . Aku terus meronta-ronta, tak mau aku menggurkannya. Aku mau jadi seorang ibu. Tapi tiba-tiba Romi memukul kepalaku. Pingsan.
Aku menangis terus. Tanpa henti. Seperti hujan yang terus tercurah saat musim hujan berlangsung. Menangisi perbuatanku. Menangis melakukan pembunuhan keji itu. Aku baru sadar. Aku ingin bayi itu hidup. Aku ingin melihat matanya menatap mataku. Aku ingin menyentuh lembut kulitnya. Aku ingin dibangunkan oleh suara isak tangisnya. Aku ingin sekali disibukkan dengan menyusuinya. Aku benar-benar menyesal. Aku ingin menggendongnya, menciumnya, merasakan hangatnya sentuhan mungil dia. Meski aku tahu Romi tidak akan betanggungjawab. Meski aku tahu semua tak akan pernah kembali. Tak akan mungkin sesuai dengan harapan.
Kami semua sudah dirumah. Membiarkanku beristirahat di kamar. Aku segera berpikir cepat. Memasuki kamar mandi dan menenggelamkan tubuhku pada bak mandi. Segar. Dingin. Menjernihlan pikiranku. Aku Memejamkan mataku. Menyatukan air mataku dengan air bak mandi. Aku inhin mengakhiri hidup ini. Romi memang bukan lelaki yang baik. Laki-laki baik ialah yang sanggip menjaga kehormatan wanita, bukan yang seperti romi.  seolah tak merasakan sakit yang kuderita aku terus membenamkan diriku.
Sarah dan kak Lisa berhasil menggugurkan janin yang ku kandung dalam rahimku, rasa sakit yang kurasakan tidak sebesar rasa bersalahku yang besar karna telah membuang bayi suci dan tak berdosa. Dalam kamarmani kukutuk diriku sendiri sampai kutukanku memenuhi seluruh ruangan, menguap menghilang bagai buih dalam lautan, melebur menjadi satu dengan doa doa para pendosa yang ada di seluruh dunia. Aku kotor, aku jahat, aku tidak pantas mendapatkan kehidupan. Kalaulah janin ini harus hilang maka akupun juga harus melenyap di atas muka bumi ini. Dunia terlalu rapuh bila harus menanggung dosaku yang sangat besar ini.
Aku mencari sesuatu yang dapat membunuh diriku sendiri, kulihat kawat yang menganga di sudut kamar mandi. Aku bergegas mengambilnya. Saat itu pula kak lisa dan Sarah masuk. Melihatku berusaha meraih kawat tajam itu.

"Kal, bodoh! Jangan lakukan itu!" Sarah menarikku. Aku terus memberontak. Ka Lisa panik. Ia berteriak histeris. Ada perlawanan yang terjadi antar aku dan Sarah. Kering sudah tangisanku. Kami terus saja saling dorong, dan saat itu pula aku hilang keseimbangan. Licinnya lantai kamar mandi membuatku terpelanting jatuh, dan kepalaku menghantam lantai dengan sangat keras. Lalu semua terasa samar, gelap .
Inikah akhir hidupku? Bertemu dengan malaikat kecilku yang baru saja pergi.
Fin~
 
Read more...
separador

Project Writing #AWeekofCollaboration

Lalalalala Dududududu~
Gak tau kenapa seneng aja rasanya pas mau buat postingan ini, semangatnya full full-an banget, on fire seketika, haha. Oke sekarang mau banget share pengalaman dan share pendapat tentang salah satu project yang beberapa hari ini gue ikutin. Yap yap, nama project itu adalah #AWeekofCollaboration. Iya project itu berlangsung di Twitter, pertama kali gue tau project itu dari salah satu temen SMP gue , dia emang salah satu temen twitter yang paling sering ikutan project writing gitu lewat twitter. Awalnya gue baca dulu cara ngikutin project yang ini kayak gimana di website mereka, pertama kali rada takut buat ikutan karna yaaa you know lah? Banyak banget penulis-penulis yang lebih jago daripada gue bertebaran di luar sana, minder ceritanya mah, hehe.

Setelah gue mikir-mikir lagi akhirnya gue ambil keputusan untuk ikutan, itung-itung nambah temen baru dan nambah pengalaman baru kan?. Gue mulai nulis di hari rabu gak dari hari senin karna telat tau informasinya. partner pertama gue itu namanya , bener-bener belum kenal sebelumnya sama makhluk yang satu ini tapi tetep tancep gas aja untuk melahirkan karya kolaborasi milik bersama, hehe. Hari rabu tema yang angkat adalah "Gelap" dan sesuai dengan tema, gue sama bang putra mulai nulis kolaborasi di malam hari yang gelap juga. Kita lempar-lemparan tulisan lewat message di FB, udah dapet beberapa alenia akhirnya terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Iya si abang yang satu itu tetiba ada kerjaan yang gak bisa ditinggalin dan akhirnya dia ngizinin gue untuk cari partner baru, gubrak gak tooooh! aah emang benar-bener deh si abang. Gak lama gue coba muter otak, mau gak mau ini karya harus selesai, sayang banget kalo gak di selesaiin. Akhirnya gue liat yang masih OL di FB siapa daaaan di temukanlah seseorang dengan nama yang sama tapi orangnya beda, partner ke dua gue dia adek angkatan gue di kampus. setelah gue bantu dia untuk pahamin cara main ini proyek, akhirnya dia mau lanjutin karya kolaborasi hari pertama gue. Dan kalo boleh jujuuuuur, dia adalah penulis yang punya bakat untuk obrak-abrik alur cerita. Adoooh malem-malem di ajak berpusing-pusing ria sama tuh anak. Kalo mau tau karya pertama gue sama 2 orang yang berbeda tapi punya 1 nama yang sama kalian boleh liat tulisan ini ~> judulnya "Gelap Dalam Gelap" pokoknya kalo ada alur yang aneh-aneh setidaknya kalian bisa tau itu perbuatan siapa --,-- tapi jujur ini kolaborasi 3 orang yang gak biasa. hasilnya KEREEEN~

Jeng jeeeng~ hari Kamis hari ke 4 untuk semua yang mulai dari awal dan hari ke 2 untuk gue.
Hahaha ini lebih seru coooy.. Sangking serunya banyak kejutan yang gue dapetin di hari itu. haha. Di hari ke 2 kita semua dapet tema "Hangat" dan gue dapet partner sama yang kelihatannya salah satu anak fakultas kedokteran di salah satu perguruan tinggi negri di Malang. Adies penulis yang suka ngasih kejutan, hehe kita bales-balesan tulisan lewat email dan jujur ini adalah tulisan yang punya inti cerita yang sanget menarik dan gak mindstream. Aeneng bisa ada kesempatan untuk kolaborasi sama calon dokter hebat kayak dia. Ini adalah hasil karya gue sama adies ~> judulnya "Akulah Sebab dan Akibat"

Hari Jum'at pun datang dan entahlah kayak ada yang mau nebus kesalahan gitu deeeh. haha di hari ke 3 gue kolaborasi sma bang putra lagi dan tema yang kita dapet adalah "Hening". Sebenernya dari awal gue ikut proyek ini gue mau banget kolaborasi bikin sajak sama orang, tapi yang gue liat dari awal kebanyakan pada bikin cerpen atau flash fiction gitu. Daaan ternyata si bang putra juga punya pasion yang sama kayak gue. Dia juga lebih prefer ke arah puisi/sajak ketimbang cerpen cerpen gitu haha punya temen 1 spesies yang sama! haha. akhirnya kita mutusin untuk bikin kolaborasi sajak deeeh.. Haha ini baru seru! Dalam satu hari yang sama kita berhasil melahirkan 2 kolaborasi sajak yang punya tema satu tapi dilihat dari 2 sudut pandang yang berbeda, mantaf! ini hasil kolaborasi kita ~> "Mencinta Tanpa Suara" dan "Aku Rindu Kamu, Hening" hahaha 2 karya yang anggun kalo boleh narsis. :P

Hari sabtu tema yang kita dapetin adalah "Penantian" adududududuuuh~ bener-bener deh tema yang diangkat sama proyek #AWeekofCollaboration pada gilak gilaaak! hehe, keren sungguh keren. Untuk hari sabtu gue gak dapet pertner kerna hari sabtu lagi ada yang harus dilakuin jadi bukan karna temanya yang membunuh banget yah, tapi emang lagi ada keperluan lain. haha. Mungkin kalo kemarin dapet partner dan ngehasilin tulisan bakal kayak ngoyak-ngoyak luka sendiri kali ya? wkwk

Naaah untuk hari minggu ini, hari terakhir proyek #AWeekofCollaboration bakal ditutup kita semua dapet tema "Akhir" fyuuuh emang setiap aal pasti ada akhir yah? Sunnatullah. hari ini gue kolaborasi sama temen sahabat jaman SMP sampe sekarang punyanya gue.. hehe, let's make a shake baby! we're hot. hehe :P

Komentar gue tentang project writing #AWeekofCollaboration kali ini seruuu banget, kereeen banget konsepnya, perencanaannya matang dan gak main-main. Mereka peduli sama bakat bakat yang dimilikin sama semua orang terutama menlis, proyek #AWeekofCollaboration tuh udah jadi salah satu wadah penulis amatir yang sangat haus akan kesempatan untuk menunjukkan eksistensinya. So you're have a Great JOB! Mungkin tanpa kita para penulis amatir yang gabung di proyek sadari dengan proyek ini udah ngebantu kita untuk profesional sama apa yang lagi kita kerjakan dan bener bener ngajarin kita untuk menahan ego kita masing masing. Sehari hari kita nulis sendiri, alur mau di alirin ke mana aja ya semau kita sendiri, karakter atau nama subjek semau kita sendiri, tapi kalo kerjain tulisan berdua kan ya gak mungkin bisa egois. hehe. pokoke manteeep!

Thanks banget untuk panitia yang udah buat acara semenarik ini, semoga akan menjamur project writing untuk penulis amatir kedepannya. dan thanks banget juga buat semua partner yang udah mau berbagi sama gue. haha, kalian semua luar biasaa... Love it!




Read more...
separador

Jumat, 01 Maret 2013

Aku Rindu Kamu, Hening

Senyap, aku benar-benar merindukanmu
Kesunyian yang kau cengkramkan pada hatiku
benar-benar menenangkanku
Keheningan yang kau nyanyikan pada jiwaku
benar-benar terdengar merdu

Pada samar suara jangkrik
Pada detik-detik yang berisik
Aku tak merasa terusik
Ada damai yang kupetik

Ribuan menitku terisi sesak oleh kegaduhan
Setiap pagi selalu kutemui deru kendaraan penuh di jalan
Para tetangga bergosip riuh tak tertahankan
Bahkan pertengkaran cicak yang tak bisa kupisahkan

Mendengar sahutan dengkuran tak pernah membuat tidurku lelap
Gombalan para remaja terdengar bagai buih yang menguap
Janji janji pemimpin yang diobral terlihat seperti tayangan para pesulap
Kericuhan macam itulah yang selalu kutemui dalam hari-hariku yang pengap

Aku seakan mengerti melodi alam
Yang dilantunkan sunyi kala malam
Rasanya semua bising terbungkam
Dalam dekapan cahaya temaram
Aku ingin hening yang kejam
Tikam malam hingga padam

Di horizon timur, mentari hadir lagi
Membawa bising ke permukaan pagi
Kemana sunyi?
Kemana sepi?
Aku tak mau semua gaduh ini
Aku tak mau hirup udara pagi
Aku mau sunyi!
Aku mau sepi!

Andai saja aku dapat membungkam semua mulut para pembual
Maka tidak akan pernah lagi kusapa pagi dengan rasa sesal
Pasti akan kupasang muka ini dengan topeng lain selain topeng baal
Tapi ternyata di negeri para bedebah ini masih saja kutemui kericuhan massal

Semua aneh
Bahkan kadang cuaca pun berubah jadi nyeleneh
Para pemberontak bisa terbungkam hanya dengan dilempar kepingan uang receh
Maka tak heran banyak benih yang mulai tumbuh makin hari malah makin membleh

Hei, senyap, di mana kamu?
Aku sungguh rindu hadirmu
Kulempar tanya ke segala penjuru
Tak ada jawaban yang kumau

Semua bising ini terlalu egois
Seperti hujan yang menghardik gerimis
Semua seperti dihasut iblis
Semua tenang dilahap habis
Semua damai dibunuh dengan sadis
Ironis!

Setiap malam yang semakin larut kupaksakan mataku untuk terpejam
Mungkin saja dapat kutemui hening sebagai alat untuk meredam
Meredam kegaduhan dan keanarkisan suasana yang membuat hari temaram
Kesunyian nyayian jangkrik atau obrolan santai cicak pasti bias membuat hatiku tentram

Adalah aku yang sangat merindukan hening
Adalah aku yang sangat membenci semua hal bising
Adalah aku yang sangat mendambakan air yang berdenting
dan adalah aku yang sangat menghindari semua hal yang tidak penting

Aku rindu kamu, hening…
   
Read more...
separador